UJI KELAYAKAN DALAM PROSES
PERENCANAAN PENDIDIKAN
A. Kedudukan Uji Kelayakan dalam Proses
Perencanaan
Uji kelayakan yang akan dibicarakan di
sini tidak identik dengan konsep evaluasi rencana yang akan dibicarakan
kemudian. Kedua konsep ini mempunyai persamaan yaitu sama-sama dilakukan untuk
menguji secara kritis dan jika mungkin untuk melakukan revisi rencana
pendidikan yang menjadi tujuan utamanya. Perbedaan kedua terletak pada caranya
tampil pada tahapan dalam proses perencanaan pendidikan.
Uji kelayakan dilakukan setelah tahap
penetapan sasaran dan sebelum tahap perumusan rencana dilakukan. Uji kelayakan
adalah tahap kegiatan tunggal dilengkapi dengan periode waktu yang pendek.
Sebaliknya, pada tahap evaluasi rencana, aktivitasnya meliputi seluruh kegiatan
yang terdapat dalam rencana dan dalam periode waktu yang panjang.
B. Sifat Uji Kelayakan
Dalam kamus Oxford, kelayakan didefinisikan
sebagai dapat dipraktikan (practicable),
memiliki peluang untuk dapat dilaksanakan (possible),
dapat dikelola (manageable), mudah
dilakukan (convenient), dapat
dilayani (serviceable), dan masuk
akal (plausible). Ini jelas bahwa
rencana pendidikan yang akan dilakukan harus memenuhi persyaratan semua ini.
Uji kelayakan didefinisikan sebagai
penelitian yang sistematis mengenai aspek-aspek yang berkaitan dengan sifat
kegiatan, yaitu : dapat dipraktikkan (practicability),
kemungkinan dapat dilaksanakan (possibility),
dapat dikelola (manageable), dan
sifat logisnya (plausibility) dari
suatu rencana. Fokusnya adalah apakah setiap target dalam rencana dapat dicapai
? apakah implementasi rencana akan gagal oleh karena adanya tekanan faktor
eksternal atau karena menyempitkan rencana itu sendiri ?
Apakah definisi ini mendukung atau
tidak terhadap uji kelayakan, maka harus dilihat dari beberapa perspektif
berikut ini.
1.
Menguji
saling keterkaitan antara sistem pendidikan dengan lingkungannya.
Bagaimana target-target rencana pendidikan akan
mempengaruhi sisitem yang berbeda-beda yang ada disekitar sistem pendidikan,
seperti sistem politik, ekonomi, dan subsistem sosial budaya masyarakat ?
apakah kita memiliki alasan yang kuat bahwa di sana tidak mengharapkan umpan
balik dari sistem-sistem tadi yang mungkin menghalangi pencapaian setiap target
rencana ? mungkinkah pencapaian target-target rencana pendidikan baik secara
individual maupun secara berkelompok memicu sesuatu yang tidak diharapkan oleh
masyarakat secara politik, ekonomi, dan sosial ? pengalaman para perencana
pendidikan tentu saja banyak mengetahui contoh rencana pendidikan tentu saja
banyak mengetahui contoh rencana yang tidak layak karena umpan balik berupa
reaksi masyarakat yang tidak masuk dalam perhitungan.
Contoh pertama, rencana pendidikan mungkin kelihatannya
akan membangun jenis sekolah baru di suatu desa dengan kurikulum pedesaan yang
kuat, dan lulusan kelas VI tidak diberi peluang untuk memperoleh sekolah
menengah yang modern. Reaksi penolakan mungkin akan muncul dari orang tua yang
telah mempersiapkan anaknya untuk dikirim ke sekolah-sekolah dengan model
kurikulum perkotaan, karena mereka melihat sekolah baru itu sebagai lembaga
kelas dua, ini menyiratkan bahwa perencanaan mungkin merealisasikan program
ini, meskipun dengan penuh perhatian terbaiknya, tetapi mungkin menjadi tidak
layak karena bertentangan dengan sikap sosial budaya masyarakat terhadap
pembangunan.
Contoh kedua, adalah umpan balik yang yang merugikan dari
subsistem administrasi dan politik pada suatu rencana yang diajukan secara
sistematis, terkoordinasi dan meramalkan pendidikan atas dasar kebijakan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi ternyata tidak diharapkan dan bahkan
mendapatkan penolakan dari unit atau bagian lainnya yang mungkin kehilangan
beberapa program mereka. Hal ini menunjukkan bahwa rencana tersebut tidak layak
untuk diteruskan.
Contoh lainnya, inin berkaitan dengan kemungkinan
menyoroti dampak pembiayaan setiap target rencana. Rencanamungkinterdiri atas suatu
target untuk meningkatkan kualifikasi seluruh guru SD melalui program pelatihan
guru secara masal. Perencanaan harus menetapkan bahwa biaya pelatihan ini dapat
diperoleh dari anggaran rencana, tetapi mereka melihat fakta bahwa ada puluhan
ribu guru yang harus ditingkatkan kemampuannya. Meningkatkan kualifikasi
guru-guru akan membuat tingkat gaji guru juga dengan sendirinya akan meningkat.
Dengan demikian, rencana ini menjadi tidak layak secara fiansial. Dari beberapa
contoh di atas adalah datang dari aspek eksternal kelayakan rencana.
2.
Uji
kelayakan juga harus mempertimbangkan pelaksanaan erencana di bidang lain. Ini
berarti uji kelayakan juga harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya
inkonsentrasi dan semakin menyempitnya rencana itu. Ini disebut sebagai aspek
internal kelayakan rencana, ini menyebabkan melebihi kapasitas angka pemasukan
sekolah menengah adalah contoh klasik dari inkonsistensi internal suatu
rencana.
C. Analisis Input, Proses dan Output Perencanaan
Pendidikan
Sama
seperti proses produksi pada bidang industri, proses pendidikan juga diharapkan
untuk menghailkan output (lulusan
dengan berbagai kemampuan dan ketrampilan) dan menggunakan input (bangunan sekolah, guru, sarana, siswa, tahun, dan
lain-lain). Dalam menguji kelayakan suatu rencana kita secara aktual menjawab
tiga pertanyaan penting yaitu:
1.
Bagaimana
output sesuai dengan tujuan ?
2.
Bagaimana input dapat disediakan ?
3.
Bagaimana
proses mengkombinasikan input membuat
output menjadi kenyataan ?
1. Output
perencanaan pendidikan
Rencana pendidikan dimulai dengan merumuskan output atau tujuan rencana yang akan
dicapai dan diputuskan. Tujuan ini akan mengarah kepada program dan target yang
bersifat kuantitatif (jumlah murid dan jumlah lulusan) dan dalam bentuk
kualitatif (reformasi kurikulum, isi kurikulum yang baru, pendidikan untuk kaum
gadis, dan sebagainya). Pertanyaan yang harus dijawab, apakah tujuan dan target
output yang dihasilkan sesuai dengan
tujuan dan kebutuhan pendidikan dan tujuan dan kebutuhan sistem lain dalam
masyarakat. Pertanyaan ini berkaitan dengan konsisiten anatara prioritas
politik dan sosial ekonomi nasional, dan kontribusi yang dibuat pendidikan pada
sektor lain. Ini adalah menguji konsistensi eksternal suatu rencana.
2. Input
perencanaan pendidikan
Dalam sisitem pendidikan, perbedaan anatar input dan output tidak begitu tajam. Misalnya output pada jenjang pendidikan tertentu (lulusan SD) adalah menjadi
input potensial pada jenjang
pendidikan berikutnya(calon siswa SMP). Input
untuk program dan proyek pada rencana pendidikan dapat beragam bentuknya yaitu:
manusia seperti guru dan tenaga administrasi, material seperti gedung, buku
teks, perabotan, dan biaya yang dibutuhkan untuk membayar gaji pegawai,
melengkapi peralatan, membangun gedung, dan lain sebagainya.
3. Proses
perencanaan pendidikan
Input digunakan dalam proses implementasi yang mengarah
pada memproduksi output. Keberadaan input itu sendiri tidak menjamin bahwa
kita akan berharap output karena sesuatu mungkin salah dalam
pelaksanaan rencana. Pertanyaan yang muncul adalah apakah implementasinya layak
? apakah di sana ada hambatan yang harus dihilangkan ? siapa yang memeriksa
konsistensi rencana baik internal maupun eksternal ? siapakah yang
mengkomunikasikan rencana belanja dengan baik ?pada proses uji kelayakan,
pertanyaan-pertanyaan di atas harus dijawab. Proses pengujian ini yang secara
mendasar menguji aspek-aspek internal suatu rencana dan aspek eksternal yang
harus diperhatikan baik-baik.
Perencanaan
pendidikan tidak akan bekerja dan rencana tidak akan berjalan dalam suasana
yang vacum. Aspek kelayakan internal
maupun eksternal suatu rencana harus hati-hati diuji sebelum tahap perumusan
rencana dimulai.
DAFTAR RUJUKAN
Matin.
2013. Perencanaan Pendidikan: Perspektif
Proses dan teknik dalam Penyusunan Program Pendidikan. Jakarta: Rajawali
Pers.






0 komentar:
Posting Komentar