Minggu, 05 Mei 2019

UJI KELAYAKAN DALAM PROSES PERENCANAAN PENDIDIKAN




UJI KELAYAKAN DALAM PROSES PERENCANAAN PENDIDIKAN



     A.    Kedudukan Uji Kelayakan dalam Proses Perencanaan
Uji kelayakan yang akan dibicarakan di sini tidak identik dengan konsep evaluasi rencana yang akan dibicarakan kemudian. Kedua konsep ini mempunyai persamaan yaitu sama-sama dilakukan untuk menguji secara kritis dan jika mungkin untuk melakukan revisi rencana pendidikan yang menjadi tujuan utamanya. Perbedaan kedua terletak pada caranya tampil pada tahapan dalam proses perencanaan pendidikan.
Uji kelayakan dilakukan setelah tahap penetapan sasaran dan sebelum tahap perumusan rencana dilakukan. Uji kelayakan adalah tahap kegiatan tunggal dilengkapi dengan periode waktu yang pendek. Sebaliknya, pada tahap evaluasi rencana, aktivitasnya meliputi seluruh kegiatan yang terdapat dalam rencana dan dalam periode waktu yang panjang.

     B.   Sifat Uji Kelayakan
Dalam kamus Oxford, kelayakan didefinisikan sebagai dapat dipraktikan (practicable), memiliki peluang untuk dapat dilaksanakan (possible), dapat dikelola (manageable), mudah dilakukan (convenient), dapat dilayani (serviceable), dan masuk akal (plausible). Ini jelas bahwa rencana pendidikan yang akan dilakukan harus memenuhi persyaratan semua ini.
Uji kelayakan didefinisikan sebagai penelitian yang sistematis mengenai aspek-aspek yang berkaitan dengan sifat kegiatan, yaitu : dapat dipraktikkan (practicability), kemungkinan dapat dilaksanakan (possibility), dapat dikelola (manageable), dan sifat logisnya (plausibility) dari suatu rencana. Fokusnya adalah apakah setiap target dalam rencana dapat dicapai ? apakah implementasi rencana akan gagal oleh karena adanya tekanan faktor eksternal atau karena menyempitkan rencana itu sendiri ?
Apakah definisi ini mendukung atau tidak terhadap uji kelayakan, maka harus dilihat dari beberapa perspektif berikut ini.


1.    Menguji saling keterkaitan antara sistem pendidikan dengan lingkungannya.
Bagaimana target-target rencana pendidikan akan mempengaruhi sisitem yang berbeda-beda yang ada disekitar sistem pendidikan, seperti sistem politik, ekonomi, dan subsistem sosial budaya masyarakat ? apakah kita memiliki alasan yang kuat bahwa di sana tidak mengharapkan umpan balik dari sistem-sistem tadi yang mungkin menghalangi pencapaian setiap target rencana ? mungkinkah pencapaian target-target rencana pendidikan baik secara individual maupun secara berkelompok memicu sesuatu yang tidak diharapkan oleh masyarakat secara politik, ekonomi, dan sosial ? pengalaman para perencana pendidikan tentu saja banyak mengetahui contoh rencana pendidikan tentu saja banyak mengetahui contoh rencana yang tidak layak karena umpan balik berupa reaksi masyarakat yang tidak masuk dalam perhitungan.
Contoh pertama, rencana pendidikan mungkin kelihatannya akan membangun jenis sekolah baru di suatu desa dengan kurikulum pedesaan yang kuat, dan lulusan kelas VI tidak diberi peluang untuk memperoleh sekolah menengah yang modern. Reaksi penolakan mungkin akan muncul dari orang tua yang telah mempersiapkan anaknya untuk dikirim ke sekolah-sekolah dengan model kurikulum perkotaan, karena mereka melihat sekolah baru itu sebagai lembaga kelas dua, ini menyiratkan bahwa perencanaan mungkin merealisasikan program ini, meskipun dengan penuh perhatian terbaiknya, tetapi mungkin menjadi tidak layak karena bertentangan dengan sikap sosial budaya masyarakat terhadap pembangunan.
Contoh kedua, adalah umpan balik yang yang merugikan dari subsistem administrasi dan politik pada suatu rencana yang diajukan secara sistematis, terkoordinasi dan meramalkan pendidikan atas dasar kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi ternyata tidak diharapkan dan bahkan mendapatkan penolakan dari unit atau bagian lainnya yang mungkin kehilangan beberapa program mereka. Hal ini menunjukkan bahwa rencana tersebut tidak layak untuk diteruskan.
Contoh lainnya, inin berkaitan dengan kemungkinan menyoroti dampak pembiayaan setiap target rencana. Rencanamungkinterdiri atas suatu target untuk meningkatkan kualifikasi seluruh guru SD melalui program pelatihan guru secara masal. Perencanaan harus menetapkan bahwa biaya pelatihan ini dapat diperoleh dari anggaran rencana, tetapi mereka melihat fakta bahwa ada puluhan ribu guru yang harus ditingkatkan kemampuannya. Meningkatkan kualifikasi guru-guru akan membuat tingkat gaji guru juga dengan sendirinya akan meningkat. Dengan demikian, rencana ini menjadi tidak layak secara fiansial. Dari beberapa contoh di atas adalah datang dari aspek eksternal kelayakan rencana.
2.    Uji kelayakan juga harus mempertimbangkan pelaksanaan erencana di bidang lain. Ini berarti uji kelayakan juga harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya inkonsentrasi dan semakin menyempitnya rencana itu. Ini disebut sebagai aspek internal kelayakan rencana, ini menyebabkan melebihi kapasitas angka pemasukan sekolah menengah adalah contoh klasik dari inkonsistensi internal suatu rencana.

    C.   Analisis Input, Proses dan Output Perencanaan Pendidikan
Sama seperti proses produksi pada bidang industri, proses pendidikan juga diharapkan untuk menghailkan output (lulusan dengan berbagai kemampuan dan ketrampilan) dan menggunakan input (bangunan sekolah, guru, sarana, siswa, tahun, dan lain-lain). Dalam menguji kelayakan suatu rencana kita secara aktual menjawab tiga pertanyaan penting yaitu:
1.   Bagaimana output sesuai dengan tujuan ?
2.   Bagaimana input dapat disediakan ?
3.   Bagaimana proses mengkombinasikan input membuat output menjadi kenyataan ?
1.      Output perencanaan pendidikan
Rencana pendidikan dimulai dengan merumuskan output atau tujuan rencana yang akan dicapai dan diputuskan. Tujuan ini akan mengarah kepada program dan target yang bersifat kuantitatif (jumlah murid dan jumlah lulusan) dan dalam bentuk kualitatif (reformasi kurikulum, isi kurikulum yang baru, pendidikan untuk kaum gadis, dan sebagainya). Pertanyaan yang harus dijawab, apakah tujuan dan target output yang dihasilkan sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pendidikan dan tujuan dan kebutuhan sistem lain dalam masyarakat. Pertanyaan ini berkaitan dengan konsisiten anatara prioritas politik dan sosial ekonomi nasional, dan kontribusi yang dibuat pendidikan pada sektor lain. Ini adalah menguji konsistensi eksternal suatu rencana.

2.      Input perencanaan pendidikan
Dalam sisitem pendidikan, perbedaan anatar input dan output tidak begitu tajam. Misalnya output pada jenjang pendidikan tertentu (lulusan SD) adalah menjadi input potensial pada jenjang pendidikan berikutnya(calon siswa SMP). Input untuk program dan proyek pada rencana pendidikan dapat beragam bentuknya yaitu: manusia seperti guru dan tenaga administrasi, material seperti gedung, buku teks, perabotan, dan biaya yang dibutuhkan untuk membayar gaji pegawai, melengkapi peralatan, membangun gedung, dan lain sebagainya.
3.      Proses perencanaan pendidikan
Input digunakan dalam proses implementasi yang mengarah pada memproduksi output. Keberadaan input itu sendiri tidak menjamin bahwa kita akan berharap output  karena sesuatu mungkin salah dalam pelaksanaan rencana. Pertanyaan yang muncul adalah apakah implementasinya layak ? apakah di sana ada hambatan yang harus dihilangkan ? siapa yang memeriksa konsistensi rencana baik internal maupun eksternal ? siapakah yang mengkomunikasikan rencana belanja dengan baik ?pada proses uji kelayakan, pertanyaan-pertanyaan di atas harus dijawab. Proses pengujian ini yang secara mendasar menguji aspek-aspek internal suatu rencana dan aspek eksternal yang harus diperhatikan baik-baik.
Perencanaan pendidikan tidak akan bekerja dan rencana tidak akan berjalan dalam suasana yang vacum. Aspek kelayakan internal maupun eksternal suatu rencana harus hati-hati diuji sebelum tahap perumusan rencana dimulai.

 DAFTAR RUJUKAN

Matin. 2013. Perencanaan Pendidikan: Perspektif Proses dan teknik dalam Penyusunan Program Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
 


0 komentar:

Posting Komentar