HUBUNGAN
MASYARAKAT DAN SEKOLAH
(Pengertian,
tujuan, manfaat, prinsip dan teknik)
A. Pengertian
Humas
Dalam
Suryosubroto (2012:12) terdapat pengertian humas menurut beberapa ahli, antara
lain:
1. Menurut
Glen dan Denny Griswold Glen
dan Griswold menyatakan bahwa public
relations is the management function which evaluates public attitudes, identified
the policies, and prosedures of an individual or organization with the public
interest, and executes a program of action to earn public understanding and
acceptance (humas merupakan fungsi manajemen yang diadakan untuk menilai
dan menyimpulkan sikap publik, menyesuaikan kebijaksanaan dan prosedur instansi
atau organisasi dengan kepentingan umum, serta menjalankan suatu program untuk
mendapatkan pengertian dan dukungan masyarakat).
2. Menurut
Oemi Abdurrahman
Oemi Abdurrahman menjelaskan bahwa humas adalah
kegiatan untuk menanamkan dan memperoleh pengertian, dukungan, kepercayaan,
serta penghargaan pada dan dari publik suatu badan pada khususnya dan
masyarakat pada umumnya.
3. Menurut
Edward L. Bernays
Edward L. Bernays mengatakan bahwa hubungan masyarakat
mempunyai tiga pengertian, yaitu:
a. Memberikan
penerangan kepada masyarakat;
b. Membujuk
masyarakat untuk mengubah sikap dan tindakannya;
c. Mengusahakan
untuk mengintegrasikan sikap dan tindakan sekolah dengan masyarakat dan
sebaliknya, masyarakat dengan sekolah.
B. Tujuan
dan Fungsi Humas
Tujuan
hubungan sekolah dengan masyarakat menurut Purwanto (1987) dalam Benty, dkk
(2015:8) adalah : (1) mengenalkan pentingnya sekolah bagi masyarakat; (2)
mendapatkan dukungan dan bantuan baik moril maupun finansial yang diperlukan
bagi pengembangan sekolah; (3) memberikan informasi kepada masyarakat tentang
isi dan pelaksanaan program perkembangan dan kebutuhan sekolah; dan (5)
mengembangkan kerja sama yang lebih erat antara masyarakat dan sekolah dalam
mendidik anak-anak.
Sedangkan
fungsi hubungan sekolah dengan masyarakat: (1) menunjang aktivitas utama
manajemen dalam mencapai tujuan bersama; (2) membina hubungan yang harmonis
anatara sekolah dengan masyarakat yang merupakan khalayak sasaran; (3)
menciptakan komunikasi dua arah timbal balik, dan mengatur informasi,
publikasi, serta pesan dari sekolah kepada masyarakat dan begitu pula
sebaliknya; (4) melayani keinginan dan kebutuhan masyarakat dan memberikan
sumbang saran kepada pimpinan sekolah dari masyarakat demi pencapaian tujuan
dan manfaat bersama; (5) mengidentifikasi segala sesuatu yang berkaitan dengan
opini, persepsi, dan tanggapan masyarakat terhadap sekolah, atau sebaliknya.
Dalam
Luqman (2013:4) disebutkan peran humas dalam perguruan tinggi sebagai berikut:
1. Membina
hubungan ke dalam, ke luar dan mempromosikan, mempublikasikan kegiatan lembaga
sebagai nilai positif;
2. Menjadi
mediator antara organisasi dengan publiknya;
3. Sebagai
komunikator, konseptor, mediator, problem solver yang tergantung lembaga
masing-masing;
4. Harus
jeli melihat, mendengar hal-hal yang berkaitan dengan image institusi dan mampu
menyampaikan berbagai informasi;
5. Sebagai
mediator, juru bicara atau wakil institusi dalam menyampaikan informasi ke
public;
6. Sebagai
mediator, komunikator, narasumber dari lembaga, sebagai pencitraan untuk
menciptakan citra yang baik;
7. Secara
umum adalam pencitraan instansi.
C. Prinsip
Humas
Dalam Benty, dkk (2015:11) disebutkan
prinsip-prinsip humas antara lain:
1. Keterpaduan
(integrity), prinsip ini mengandung
makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu,
dalam arti apa yang dijelaskan, disampaikan, dan disuguhkan kepada masyarakat
harus informasi kegiatan akademik maupun informasi kegiatan yang bersifat nonakademik.
2. Berkesinambungan
(continuity), prinsip ini berarti
bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat harus dilakukan secara
terus menerus. Pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat tidak hanya
dilakukan secara insidental atau sewaktu-waktu, misalnya satu kali dalam satu
tahun atau sekali dalam satu semester, yang hanya dilakukan pada saat akan
meminta bantuan keuangan kepada orang tua atau masyarakat.
3. Sederhana
(simplicity), prinsip ini menghendaki
agar dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat dilakukan, baik secara
komunikasi personal maupun komunikasi kelompok, pihak pemberi informasi
(sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada
masyarakat.
4. Menyeluruh
(coverage), kegiatan pemberian
informasi hendaknya menyeluruh dan mencakup semua aspek, faktor atau substansi
yang perlu disampaikan dan diketahui oleh masyarakat, misalnya program
ekstrakurikuler, kegiatan kurikuler, atau remedial meeting.
5. Konstruktif
(constructiveness), artinya sekolah memberikan informasi yang dapat membentuk
pendapat umum masyarakat yang positif terhadap sekolah.
6. Kesesuaian
(adaptability), program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya
disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut.
7. Fleksibilitas,
artinya lembaga pendidikan hendaknya mempunyai program yang cukup lentur dan
beradaptasi secara terus menerus dengan perubahan-perubahan layanan lembaga
lain di masyarakat.
8. Relevansi,
artinya peran dan fungsi lembaga pendidikan hendaknya ditentukan sesuai dengan
kondisi masyarakat yang menjadi latar belakang peserta didik.
9. Komprehensif,
artinya lembaga pendidikan harus selalu menghubungkan dirinya dengan masyarakat
yang lebih luas, intern bangsa yaitu pada tingkat wilayah, daerah, dan nasional
maupun secra internasional.
10. Melembaga,
artinya layanan efektif dalam masyarakat pada setiap warga negara hanya dapat
dicapai melalui organisasi, terutama organisasi pendidikan yang dilakukan
secara baik.
D. Manfaat
Humas
Dalam
Minarti (2012:284) disebutkan manfaat humas bagi sekolah dan bagi masyarakat,
yakni:
1. Bagi
Sekolah
a. Memperbesar
dorongan untuk mawas diri;
b. Memudahkan
memperbaiki pengelolaan sekolah;
c. Mengurangi
miskonsepsi masyarakat tentang sekolah;
d. Mendapatkan
kritik dan saran dari masyarakat;
e. Memudahkan
meminta bantuan dan dukungan dari masyarakat;
f.
Memudahkan penggunaan media pendidikan
di masyarakat;
g. Memudahkan
pendataan narasumber;
2. Bagi
Masyarakat
a. Mengetahui
aktivitas sekolah dan program-programnya;
b. Kebutuhan
masyarakat terhadap keberadaan sekolah lebih mudah terwujudkan;
c. Mendapatkan
nilai tambah dalam hal inovasi dan kreativitas sekolah;
d. Memberikan
harapan yang lebih baik terhadap masa depan anak-anak;
e. Menyalurkan
dukungan (amal, zakat, dan infaq) dari masyarakat);
f.
Mendorong terciptanya masyarakat madani.
E. Teknik-Teknik
Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat
Dalam
Benty, dkk (2015:87) disebutkan bahwa teknik hubungan lembaga pendidikan dan
masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat
dengan tujuan untuk meningkatkan pengertian anggota masyarakat tentang
kebutuhan pendidikan serta untuk mendorong minat dan kerja sama para anggota
masyarakat dalam rangka memperbaiki sekolah. Terdapat teknik-teknik
penyelenggaraan hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat, antara lain:
1. Teknik
pertemuan kelompok, teknik ini dapat berupa diskusi, seminar, lokakarya,
sarasehan, rapat, dan lain sebagainya.
2. Teknik
tatap muka, teknik ini dilakukan antara pihak lembaga pendidikan dan masyarakat
secara individual.
3. Observasi
dan partisipasi, sekolah perlu memberi kesempatan pada masyarakat untuk
mengunjungi, mengobservasi, dan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah.
4. Surat
menyurat dengan berbagai pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan,
teknik ini dapat memanfaatkan alat komunikasi seperti telepon, internet,
faksimil, e-mail, dan lain sebagainya. teknik ini digunakan oleh kebanyakan lembaga
pendidikan karena prosesnya cepat, pelaksanaannya mudah, dan dapat dilakukan
sewaktu-waktu. Selain itu, terdapat teknik yang dapat digunakan untuk
meningkatkan keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan pendidikan.
Teknik yang dimaksud adalah: (1) layanan masyarakat; (2) program pemanfaatan
alumni sekolah; (3) masyarakat sebagai model; (4) open house; (5) pemberian
kesempatan kepada masyarakat; (6) pengiriman pembicara; (7) nmasyarakat sebagai
sumber informasi; dan (8) diskusi panel.
Teknik
lain yang dapat digunakan yakni:
1. Laporan
pada orang tua;
2. Majalah
dan surat kabar sekolah;
3. Pameran
sekolah;
4. Open
house;
5. Kunjungan
orang tua peserta didik ke sekolah;
6. Kunjungan
ke rumah peserta didik;
7. Laporan
tahunan;
8. Organisasi
perkumpulan alumni; dan
9. Kegiatan
ekstrakurikuler.
Sedangkan
menurut Begin dalam Suryosubroto (2004:163) dalam Benty, dkk (2015:94)
mengungkapkan bahwa kegiatan humas dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1)
external public relation (humas ke luar); dan (2) internal public relation
(humas ke dalam). Berikut akan dipaparkan secara rinci berbagai kegiatan
publisitas ke luar maupun ke dalam,
1. Kegiatan
Eksternal
Kegiatan
eksternal ini selalu berhubungan atau ditunjukan kepada masyarakat di luar
warga sekolah, ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan yakni secara langsung
(tatap muka) dan tidak langsung. kegiatan eksternal yang tidak langsung adalah
kegiatan berhubungan dengan masyarakat melalui perantaraan media tertentu,
sedangkan kegiatan eksternal dapat juga melalui media. Berikut program yang
termasuk dalam kegiatan eksternal: (a) pameran; (b)seminar dan konferensi; (c)
open house; (d) tari, sandiwara, wayang, ketoprak, dan seni tradisional lainnya;
(e) laporan; (f) pakaian seragam; (g) company profile (profil lembaga
pendidikan); (h)special event (kegiatan khusus dalam humas); (i) pertemuan dan
musyawarah; (j) kunjungan ke rumah; dan (k) pawai atau karnaval.
2. Kegiatan
Internal
Kegiatan eksternal ini merupakan publisitas ke dalam
dan sasarannya tidak lain adalah warga sekolah yang bersangkutan, yakni para
guru, tenaga tata usaha dan seluruh siswa. Kegiatan internal bertujuan untuk:
(a) memberi penjelasan tentang kebijakan penyelenggaraan, situasi, dan
perkembangan sekolah; (b) menampung saran-saran dan pendapat-pendapat dari
warga sekolah dalam hubungannya dengan pembinaan dan pengembangan sekolah; dan
(c) dapat memelihara hubungan yang harmonis dan terciptanya kerja sama antara
warga sekolah sendiri.
Berikut merupakan contoh beberapa jenis kegiatan
internal yang lazim digunakan para praktisi humas di lembaga pendidikan ialah:
(a) diskusi; (b) film; (c) tanya jawab dan wawancara; (d) papan informasi; (e)
papan foto; (f) kotak saran; (g) stasiun radio sendiri; (h) komunikasi tatap
muka; (i) acara kekeluargaan; (j) klub sosial; (k) literature pengenalan atau
informasi; (l) jaringan telepon internal.
Dalam Kurnia (2013:9) disebutkan strategi yang
dilakukan Humas dalam Meningkatkan Reputasi Sekolah meliputi: a). Menyelenggarakan
ceramah ilmiah untuk siswa, guru dan karyawandengan pembicara pakar tertentu
yang relevan dengan bidang tertentu. b). Meningkatkan SDM guru dengan
menyelenggarakan seminar diskusi dan pelatihan-pelatihan, workshop guna
menambah kompetensi dan profesionalisme guru. c). Meningkatkan SDM guru dan
karyawan dengan pelatihan bahasa Inggris dan komputer. d).
Meningkatkan prestasi SMA Negeri 1 Surakarta di setiap mengikuti berbagai
lomba. e). Mengadakan kegiatan studi
banding ke sekolah yang lebih maju atau favorit sebagai langkah untuk
memperbaiki peningkatan yang lebih baik.
DAFTAR
RUJUKAN
Kurnia, I.H. 2013. STRATEGI HUMAS
DALAM MENINGKATKAN REPUTASI SEKOLAH (Studi
Kasus di SMA Negeri 1 Surakarta) http://jurnal.fkip.uns.ac.id (diakses pada 16 April
2018 pada pukul 23.00 WIB)
Luqman, Y. 2013. Peran dan Posisi
Hubungan Masyarakat Sebagai Fungsi Manajemen Perguruan Tinggi di Semarang. https://ejournal.undip.ac.id/ (diakses pada 16 April
2018 pada pukul 23.00 WIB)
Minarti, S. 2012. MANAJEMEN SEKOLAH
Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandiri. Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA
Suryosubroto. 2012. Hubungan Sekolah
dengan Masyarakat. Jakarta: PT RINEKA CIPTA
Kurnia, I.H. 2013. STRATEGI HUMAS
DALAM MENINGKATKAN REPUTASI SEKOLAH (Studi
Kasus di SMA Negeri 1 Surakarta) http://jurnal.fkip.uns.ac.id (diakses pada 16 April
2018 pada pukul 23.00 WIB)






0 komentar:
Posting Komentar