Sabtu, 04 Mei 2019

HUBUNGAN MASYARAKAT DAN SEKOLAH


HUBUNGAN MASYARAKAT DAN SEKOLAH
(Pengertian, tujuan, manfaat, prinsip dan teknik)
    A.     Pengertian Humas
Dalam Suryosubroto (2012:12) terdapat pengertian humas menurut beberapa ahli, antara lain:
    1. Menurut Glen dan Denny Griswold Glen dan Griswold menyatakan bahwa public relations is the management function which evaluates public attitudes, identified the policies, and prosedures of an individual or organization with the public interest, and executes a program of action to earn public understanding and acceptance (humas merupakan fungsi manajemen yang diadakan untuk menilai dan menyimpulkan sikap publik, menyesuaikan kebijaksanaan dan prosedur instansi atau organisasi dengan kepentingan umum, serta menjalankan suatu program untuk mendapatkan pengertian dan dukungan masyarakat).
      2.      Menurut Oemi Abdurrahman
Oemi Abdurrahman menjelaskan bahwa humas adalah kegiatan untuk menanamkan dan memperoleh pengertian, dukungan, kepercayaan, serta penghargaan pada dan dari publik suatu badan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
      3.      Menurut Edward L. Bernays
Edward L. Bernays mengatakan bahwa hubungan masyarakat mempunyai tiga pengertian, yaitu:
a.       Memberikan penerangan kepada masyarakat;
b.      Membujuk masyarakat untuk mengubah sikap dan tindakannya;
c.       Mengusahakan untuk mengintegrasikan sikap dan tindakan sekolah dengan masyarakat dan sebaliknya, masyarakat dengan sekolah.
   B.     Tujuan dan Fungsi Humas
Tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat menurut Purwanto (1987) dalam Benty, dkk (2015:8) adalah : (1) mengenalkan pentingnya sekolah bagi masyarakat; (2) mendapatkan dukungan dan bantuan baik moril maupun finansial yang diperlukan bagi pengembangan sekolah; (3) memberikan informasi kepada masyarakat tentang isi dan pelaksanaan program perkembangan dan kebutuhan sekolah; dan (5) mengembangkan kerja sama yang lebih erat antara masyarakat dan sekolah dalam mendidik anak-anak.
Sedangkan fungsi hubungan sekolah dengan masyarakat: (1) menunjang aktivitas utama manajemen dalam mencapai tujuan bersama; (2) membina hubungan yang harmonis anatara sekolah dengan masyarakat yang merupakan khalayak sasaran; (3) menciptakan komunikasi dua arah timbal balik, dan mengatur informasi, publikasi, serta pesan dari sekolah kepada masyarakat dan begitu pula sebaliknya; (4) melayani keinginan dan kebutuhan masyarakat dan memberikan sumbang saran kepada pimpinan sekolah dari masyarakat demi pencapaian tujuan dan manfaat bersama; (5) mengidentifikasi segala sesuatu yang berkaitan dengan opini, persepsi, dan tanggapan masyarakat terhadap sekolah, atau sebaliknya.
Dalam Luqman (2013:4) disebutkan peran humas dalam perguruan tinggi sebagai berikut:
         1.      Membina hubungan ke dalam, ke luar dan mempromosikan, mempublikasikan kegiatan lembaga sebagai nilai positif;
           2.      Menjadi mediator antara organisasi dengan publiknya;
           3.      Sebagai komunikator, konseptor, mediator, problem solver yang tergantung lembaga masing-masing;
           4.   Harus jeli melihat, mendengar hal-hal yang berkaitan dengan image institusi dan mampu menyampaikan berbagai informasi;
          5.      Sebagai mediator, juru bicara atau wakil institusi dalam menyampaikan informasi ke public;
          6.      Sebagai mediator, komunikator, narasumber dari lembaga, sebagai pencitraan untuk menciptakan citra yang baik;
         7.      Secara umum adalam pencitraan instansi.

    C.     Prinsip Humas
Dalam Benty, dkk (2015:11) disebutkan prinsip-prinsip humas antara lain:
       1.      Keterpaduan (integrity), prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu, dalam arti apa yang dijelaskan, disampaikan, dan disuguhkan kepada masyarakat harus informasi kegiatan akademik maupun informasi kegiatan yang bersifat nonakademik.
      2.      Berkesinambungan (continuity), prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat harus dilakukan secara terus menerus. Pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat tidak hanya dilakukan secara insidental atau sewaktu-waktu, misalnya satu kali dalam satu tahun atau sekali dalam satu semester, yang hanya dilakukan pada saat akan meminta bantuan keuangan kepada orang tua atau masyarakat.
      3.     Sederhana (simplicity), prinsip ini menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat dilakukan, baik secara komunikasi personal maupun komunikasi kelompok, pihak pemberi informasi (sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada masyarakat.
        4.      Menyeluruh (coverage), kegiatan pemberian informasi hendaknya menyeluruh dan mencakup semua aspek, faktor atau substansi yang perlu disampaikan dan diketahui oleh masyarakat, misalnya program ekstrakurikuler, kegiatan kurikuler, atau remedial meeting.
       5.      Konstruktif (constructiveness), artinya sekolah memberikan informasi yang dapat membentuk pendapat umum masyarakat yang positif terhadap sekolah.
      6.     Kesesuaian (adaptability), program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut.
   7.   Fleksibilitas, artinya lembaga pendidikan hendaknya mempunyai program yang cukup lentur dan beradaptasi secara terus menerus dengan perubahan-perubahan layanan lembaga lain di masyarakat.
    8.      Relevansi, artinya peran dan fungsi lembaga pendidikan hendaknya ditentukan sesuai dengan kondisi masyarakat yang menjadi latar belakang peserta didik.
     9.      Komprehensif, artinya lembaga pendidikan harus selalu menghubungkan dirinya dengan masyarakat yang lebih luas, intern bangsa yaitu pada tingkat wilayah, daerah, dan nasional maupun secra internasional.
   10.  Melembaga, artinya layanan efektif dalam masyarakat pada setiap warga negara hanya dapat dicapai melalui organisasi, terutama organisasi pendidikan yang dilakukan secara baik.
   D.     Manfaat Humas
Dalam Minarti (2012:284) disebutkan manfaat humas bagi sekolah dan bagi masyarakat, yakni:
1.      Bagi Sekolah
a.       Memperbesar dorongan untuk mawas diri;
b.      Memudahkan memperbaiki pengelolaan sekolah;
c.       Mengurangi miskonsepsi masyarakat tentang sekolah;
d.      Mendapatkan kritik dan saran dari masyarakat;
e.       Memudahkan meminta bantuan dan dukungan dari masyarakat;
f.        Memudahkan penggunaan media pendidikan di masyarakat;
g.       Memudahkan pendataan narasumber;
2.      Bagi Masyarakat
a.       Mengetahui aktivitas sekolah dan program-programnya;
b.      Kebutuhan masyarakat terhadap keberadaan sekolah lebih mudah terwujudkan;
c.       Mendapatkan nilai tambah dalam hal inovasi dan kreativitas sekolah;
d.      Memberikan harapan yang lebih baik terhadap masa depan anak-anak;
e.       Menyalurkan dukungan (amal, zakat, dan infaq) dari masyarakat);
f.        Mendorong terciptanya masyarakat madani.
   E.      Teknik-Teknik Hubungan Lembaga Pendidikan dengan Masyarakat
Dalam Benty, dkk (2015:87) disebutkan bahwa teknik hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dengan masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan pengertian anggota masyarakat tentang kebutuhan pendidikan serta untuk mendorong minat dan kerja sama para anggota masyarakat dalam rangka memperbaiki sekolah. Terdapat teknik-teknik penyelenggaraan hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat, antara lain:
1.      Teknik pertemuan kelompok, teknik ini dapat berupa diskusi, seminar, lokakarya, sarasehan, rapat, dan lain sebagainya.
2.      Teknik tatap muka, teknik ini dilakukan antara pihak lembaga pendidikan dan masyarakat secara individual.
3.      Observasi dan partisipasi, sekolah perlu memberi kesempatan pada masyarakat untuk mengunjungi, mengobservasi, dan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah.
4.      Surat menyurat dengan berbagai pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan, teknik ini dapat memanfaatkan alat komunikasi seperti telepon, internet, faksimil, e-mail, dan lain sebagainya. teknik ini digunakan oleh kebanyakan lembaga pendidikan karena prosesnya cepat, pelaksanaannya mudah, dan dapat dilakukan sewaktu-waktu. Selain itu, terdapat teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan pendidikan. Teknik yang dimaksud adalah: (1) layanan masyarakat; (2) program pemanfaatan alumni sekolah; (3) masyarakat sebagai model; (4) open house; (5) pemberian kesempatan kepada masyarakat; (6) pengiriman pembicara; (7) nmasyarakat sebagai sumber informasi; dan (8) diskusi panel.
Teknik lain yang dapat digunakan yakni:
1.      Laporan pada orang tua;
2.      Majalah dan surat kabar sekolah;
3.      Pameran sekolah;
4.      Open house;
5.      Kunjungan orang tua peserta didik ke sekolah;
6.      Kunjungan ke rumah peserta didik;
7.      Laporan tahunan;
8.      Organisasi perkumpulan alumni; dan
9.      Kegiatan ekstrakurikuler.
Sedangkan menurut Begin dalam Suryosubroto (2004:163) dalam Benty, dkk (2015:94) mengungkapkan bahwa kegiatan humas dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) external public relation (humas ke luar); dan (2) internal public relation (humas ke dalam). Berikut akan dipaparkan secara rinci berbagai kegiatan publisitas ke luar maupun ke dalam,
1.      Kegiatan Eksternal
Kegiatan eksternal ini selalu berhubungan atau ditunjukan kepada masyarakat di luar warga sekolah, ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan yakni secara langsung (tatap muka) dan tidak langsung. kegiatan eksternal yang tidak langsung adalah kegiatan berhubungan dengan masyarakat melalui perantaraan media tertentu, sedangkan kegiatan eksternal dapat juga melalui media. Berikut program yang termasuk dalam kegiatan eksternal: (a) pameran; (b)seminar dan konferensi; (c) open house; (d) tari, sandiwara, wayang, ketoprak, dan seni tradisional lainnya; (e) laporan; (f) pakaian seragam; (g) company profile (profil lembaga pendidikan); (h)special event (kegiatan khusus dalam humas); (i) pertemuan dan musyawarah; (j) kunjungan ke rumah; dan (k) pawai atau karnaval.
2.      Kegiatan Internal
Kegiatan eksternal ini merupakan publisitas ke dalam dan sasarannya tidak lain adalah warga sekolah yang bersangkutan, yakni para guru, tenaga tata usaha dan seluruh siswa. Kegiatan internal bertujuan untuk: (a) memberi penjelasan tentang kebijakan penyelenggaraan, situasi, dan perkembangan sekolah; (b) menampung saran-saran dan pendapat-pendapat dari warga sekolah dalam hubungannya dengan pembinaan dan pengembangan sekolah; dan (c) dapat memelihara hubungan yang harmonis dan terciptanya kerja sama antara warga sekolah sendiri.
Berikut merupakan contoh beberapa jenis kegiatan internal yang lazim digunakan para praktisi humas di lembaga pendidikan ialah: (a) diskusi; (b) film; (c) tanya jawab dan wawancara; (d) papan informasi; (e) papan foto; (f) kotak saran; (g) stasiun radio sendiri; (h) komunikasi tatap muka; (i) acara kekeluargaan; (j) klub sosial; (k) literature pengenalan atau informasi; (l) jaringan telepon internal.
Dalam Kurnia (2013:9) disebutkan strategi yang dilakukan Humas dalam Meningkatkan Reputasi Sekolah meliputi: a). Menyelenggarakan ceramah ilmiah untuk siswa, guru dan karyawandengan pembicara pakar tertentu yang relevan dengan bidang tertentu. b). Meningkatkan SDM guru dengan menyelenggarakan seminar diskusi dan pelatihan-pelatihan, workshop guna menambah kompetensi dan profesionalisme guru. c). Meningkatkan SDM guru dan karyawan dengan pelatihan bahasa Inggris dan komputer.  d).  Meningkatkan prestasi SMA Negeri 1 Surakarta di setiap mengikuti berbagai lomba. e).  Mengadakan kegiatan studi banding ke sekolah yang lebih maju atau favorit sebagai langkah untuk memperbaiki peningkatan yang lebih baik.
DAFTAR RUJUKAN
Kurnia, I.H. 2013. STRATEGI HUMAS DALAM MENINGKATKAN  REPUTASI SEKOLAH (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Surakarta) http://jurnal.fkip.uns.ac.id (diakses pada 16 April 2018 pada pukul 23.00 WIB)
Luqman, Y. 2013. Peran dan Posisi Hubungan Masyarakat Sebagai Fungsi Manajemen Perguruan Tinggi di Semarang. https://ejournal.undip.ac.id/ (diakses pada 16 April 2018 pada pukul 23.00 WIB)
Minarti, S. 2012. MANAJEMEN SEKOLAH Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandiri. Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA
Suryosubroto. 2012. Hubungan Sekolah dengan Masyarakat. Jakarta: PT RINEKA CIPTA
Kurnia, I.H. 2013. STRATEGI HUMAS DALAM MENINGKATKAN  REPUTASI SEKOLAH (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Surakarta) http://jurnal.fkip.uns.ac.id (diakses pada 16 April 2018 pada pukul 23.00 WIB)

0 komentar:

Posting Komentar