Senin, 29 April 2019

SINERGITAS KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT DALAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER



 Sinergitas Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat dalam Penguatan Pendidikan Karakter

Peran keluarga dan sekolah dalam penguatan pendidikan karakter yakni menjelaskan bahwa sejatinya anak-anak di Indonesia dan di seluruh dunia  terlahir dalam keadaan cerdas, baik dalam bidang akademik maupun akademik. Akan tetapi, inilah yang belum mampu dipahami oleh masyarakat kita, dan sebagian dari mereka masih mengklaim bahwa anak-anak yang cerdas hanya anak-anak yang kompeten di bidang akademik. Alhasil, pemahaman ini menjadikan sejumlah orang tua memaksakan anaknya untuk unggul di bidang akademik, seperti matematika, sains, dan ilmu-ilmu yang lainnya. Terkadang, baik orang tua maupun guru di sekolah tidak segan untuk menggunakan kekerasan dalam memastikan bahwa anak menguasai ilmu-ilmu tersebut. Hal ini tentu miris, ketika mengetahui bahwa anak-anak yang sejatinya berkompeten dalam suatu bidang menjadi takut untuk mengeksplor kemampuannya, karena secara terus menerus menjadi sasaran empuk dari kekerasan fisik dan verbal.
Sekolah, orang tua dan masyarakat merupakan tripusat pendidikan. Sudah menjadi tugas mereka dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak dan penuh kasih sayang. Tindakan yang tidak bijakasana, apabila guru dan orang tua memaksakan kehendak kepada anak untuk menguasai suatu bidang yang tidak menjadi kesukaannya. Maka akan mampu menimbulkan dampak pada anak, muncul perasaan-perasaan seperti berikut:
(1) gelisa dan cemas,
(2) malas belajar, serta
(3) rendah diri.Orang tua dan guru.  

Seharusnya menyediakan metode pembelajaran yang sesuai dengan bakat dan minat anak. Semisal, anak suka menggambar, maka orang tua dan guru harus menyajikan pula suatu materi dengan cara menggambar. Jika hal tersebut dilakukan, maka anak akan lebih senang belajar dan bersemangat. Ketika orang tua dan sekolah sudah mampu berkerjasama dalam menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang nyaman, maka kemungkinan kecil bagi anak untuk tidak menjadi pribadi yang nakal.

Kenakalan pada anak-anak merupakan hal yang wajar, karena pada usia tersebut anak sedang gemar mengeksplor lingkungannya. Hal ini merupakan momen bagi orang tua dan sekolah untuk menebarkan pengaruh-pengaruh positif. Orang tua, selaku pihak yang mendampingi anak di rumah, seharusnya juga membantu anak dalam memilih dan memilah tontonanannya. Demikian dikarenakan televisi dan media masa lainnya dinilai paling banyak memberi pengaruh negatif pada anak. Guru di sekolah juga tidak boleh menggunakan kekerasan, karena guru yang menerapkan kekerasan mampu dikenakan hukuman 3 tahun 6 bulan penjara.
Peran masyarakat dalam penguatan pendidikan karakter. Beliau menjelaskan bahwa sejatinya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang santun, sopan dan mengenal etika. Demikian sebaiknya dipelihara, bukan dibiarkan berubah seiring berjalannya zaman. Allah, sejatinya mengkaruniakan karakter yang berbeda-beda pada masing-masing manusia. Hanya saja, kita sebagai manusia terkadang tidak mampu dalam menggunakan karakter tersebut dalam hal yang postif. Apabila kita bertekad untuk memperbaiki orang-orang di sekitar kita, maka setidaknya ada dua karakter yang harus ditanamkan dalam diri kita. Seperti karakter bahagia yang diwujudkan dengan menjalankan aktivitas sehari-hari dengan perasaan senang dan karakter jujur yang diwujudkan dengan kebiasaan berkata serta bersikap apa adanya. Ketika seseorang telah mampu mengolah dua karakter inti dalam dirinya, maka mudah baginya untuk menebar pengaruh positif pada anggota masyarakat.
Indonesia terdapat 19 karakter yang ditanamkan, namun dengan mengkolaborasikan dua karakter dalam diri kita sudah merupakan hal yang cukup. Di Indonesia, sangat perlu ditanamkan etika, seperti kebiasaan merunduk pada saat lewat dihadapan orang yang lebih tua. Hal tersebut rupanya mulai memudar, terutama di tengah kalangan remaja. Saat ini, banyak pula anak-anak usia muda bahkan usia dini yang gemar menonton video porno. Mereka tidak tahu bahwa yang demikian tidak akan mendatangkan manfaat, melainkan menggerogoti sel-sel otak. Jika hal ini dibiarkan, maka dapat dipastikan 20 tahun lagi, pemimpin tidak bisa membedakan mana yang halal dan haram.
Karakter sejatinya berbeda dengan watak dan tempramen yang notabene sukar untuk diubah. Oleh karena itu, perlu diilakukan pendekatan-pendekatan dalam pembentukan karakter, yakni bisa menggunakan pendekatan geografis, sosiologis, dan kultural. Dalam pembentukan karakter ini pula dibutuhkan sinergitas antara keluarga (60%), sekolah (20%) dan masayarakat (20%).  Seluruh pihak harus berkerjasama dalam  mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkarakter dan beretika. Jika kita dikenal sebagai negara yang sopan, maka tidak hanya “dulu”, melainkan “saat ini” hingga di “masa mendatang”. Mari tanamkan sifat-sifat positif dalam diri kita dan sebarkan pula pengaruh positif pada masyarakat kita.


0 komentar:

Posting Komentar