Sinergitas Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat
dalam Penguatan Pendidikan Karakter
Peran
keluarga dan sekolah dalam penguatan pendidikan karakter yakni menjelaskan
bahwa sejatinya anak-anak di Indonesia dan di seluruh dunia terlahir dalam keadaan cerdas, baik dalam
bidang akademik maupun akademik. Akan tetapi, inilah yang belum mampu dipahami
oleh masyarakat kita, dan sebagian dari mereka masih mengklaim bahwa anak-anak
yang cerdas hanya anak-anak yang kompeten di bidang akademik. Alhasil,
pemahaman ini menjadikan sejumlah orang tua memaksakan anaknya untuk unggul di
bidang akademik, seperti matematika, sains, dan ilmu-ilmu yang lainnya.
Terkadang, baik orang tua maupun guru di sekolah tidak segan untuk menggunakan
kekerasan dalam memastikan bahwa anak menguasai ilmu-ilmu tersebut. Hal ini
tentu miris, ketika mengetahui bahwa anak-anak yang sejatinya berkompeten dalam
suatu bidang menjadi takut untuk mengeksplor kemampuannya, karena secara terus
menerus menjadi sasaran empuk dari kekerasan fisik dan verbal.
Sekolah, orang tua dan masyarakat
merupakan tripusat pendidikan. Sudah menjadi tugas mereka dalam menciptakan
lingkungan belajar yang ramah anak dan penuh kasih sayang. Tindakan yang tidak
bijakasana, apabila guru dan orang tua memaksakan kehendak kepada anak untuk
menguasai suatu bidang yang tidak menjadi kesukaannya. Maka akan mampu
menimbulkan dampak pada anak, muncul perasaan-perasaan seperti berikut:
(1)
gelisa dan cemas,
(2) malas belajar, serta
(3) rendah diri.Orang tua dan guru.
Seharusnya menyediakan
metode pembelajaran yang sesuai dengan bakat dan minat anak. Semisal, anak suka
menggambar, maka orang tua dan guru harus menyajikan pula suatu materi dengan
cara menggambar. Jika hal tersebut dilakukan, maka anak akan lebih senang
belajar dan bersemangat. Ketika orang tua dan sekolah sudah mampu berkerjasama
dalam menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang nyaman, maka kemungkinan
kecil bagi anak untuk tidak menjadi pribadi yang nakal.
Kenakalan
pada anak-anak merupakan hal yang wajar, karena pada usia tersebut anak sedang
gemar mengeksplor lingkungannya. Hal ini merupakan momen bagi orang tua dan
sekolah untuk menebarkan pengaruh-pengaruh positif. Orang tua, selaku pihak
yang mendampingi anak di rumah, seharusnya juga membantu anak dalam memilih dan
memilah tontonanannya. Demikian dikarenakan televisi dan media masa lainnya
dinilai paling banyak memberi pengaruh negatif pada anak. Guru di sekolah juga
tidak boleh menggunakan kekerasan, karena guru yang menerapkan kekerasan mampu
dikenakan hukuman 3 tahun 6 bulan penjara.
Peran
masyarakat dalam penguatan pendidikan karakter. Beliau menjelaskan bahwa
sejatinya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang santun, sopan dan mengenal
etika. Demikian sebaiknya dipelihara, bukan dibiarkan berubah seiring
berjalannya zaman. Allah, sejatinya mengkaruniakan karakter yang berbeda-beda
pada masing-masing manusia. Hanya saja, kita sebagai manusia terkadang tidak
mampu dalam menggunakan karakter tersebut dalam hal yang postif. Apabila kita
bertekad untuk memperbaiki orang-orang di sekitar kita, maka setidaknya ada dua
karakter yang harus ditanamkan dalam diri kita. Seperti karakter bahagia yang
diwujudkan dengan menjalankan aktivitas sehari-hari dengan perasaan senang dan
karakter jujur yang diwujudkan dengan kebiasaan berkata serta bersikap apa
adanya. Ketika seseorang telah mampu mengolah dua karakter inti dalam dirinya,
maka mudah baginya untuk menebar pengaruh positif pada anggota masyarakat.
Indonesia
terdapat 19 karakter yang ditanamkan, namun dengan mengkolaborasikan dua
karakter dalam diri kita sudah merupakan hal yang cukup. Di Indonesia, sangat
perlu ditanamkan etika, seperti kebiasaan merunduk pada saat lewat dihadapan
orang yang lebih tua. Hal tersebut rupanya mulai memudar, terutama di tengah kalangan
remaja. Saat ini, banyak pula anak-anak usia muda bahkan usia dini yang gemar
menonton video porno. Mereka tidak tahu bahwa yang demikian tidak akan
mendatangkan manfaat, melainkan menggerogoti sel-sel otak. Jika hal ini
dibiarkan, maka dapat dipastikan 20 tahun lagi, pemimpin tidak bisa membedakan
mana yang halal dan haram.
Karakter sejatinya berbeda dengan watak
dan tempramen yang notabene sukar untuk diubah. Oleh karena itu, perlu
diilakukan pendekatan-pendekatan dalam pembentukan karakter, yakni bisa
menggunakan pendekatan geografis, sosiologis, dan kultural. Dalam pembentukan
karakter ini pula dibutuhkan sinergitas antara keluarga (60%), sekolah (20%)
dan masayarakat (20%). Seluruh pihak
harus berkerjasama dalam mewujudkan
masyarakat Indonesia yang berkarakter dan beretika. Jika kita dikenal sebagai
negara yang sopan, maka tidak hanya “dulu”, melainkan “saat ini” hingga di
“masa mendatang”. Mari tanamkan sifat-sifat positif dalam diri kita dan
sebarkan pula pengaruh positif pada masyarakat kita.






0 komentar:
Posting Komentar