Implementasi
Pengeloaan Kelas yang Efektif Sebagai Peningkat Motivasi Siswa dalam
Pembelajaran di kelas
Adinda Dwivana Larasati1;
Beti Widaryati2; Dini Anisa Nur Aini3; Muhammad Insan
Kamil4; Ramadhanti Dita N. S5; Yoga Abi Zakaria6
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini yakni
untuk mengetahui bagaimana sekolah dalam menerapkan konsep pengembangan sistem manajemen pendidikan
di sekolahnya, serta bagaimana upaya peningkatan mutu dengan penerapan
pendekatan dan permasalahan
sistem manajemen pendidikan yang timbul di
dalamnya. Dan juga dapat mengetahui bahwa sekolah
menerapkan konsep-konsep
sistem manajemen pendidikan. Metode yang digunakan yakni metode pengembangan,
dengan mengembangkan suatu sistem pengelolaan kelas yang teratur sehingga dapat
menganalisa pengembangannya agar sistem tersebut dapat memenuhi kebutuhan
disekolah yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa,
penyusunan program pengelolaan kelas berpedoman pada prinsip-prinsip dasar
sistem manajemen pendidikan yang ada, implementasi manajemen pengelolaan kelas
yang dilakukan kepala sekolah dengan melibatkan seluruh pendukung sekolah,
Manfaat penerapan manajemen pengelolaan kelas terjadinya peningkatan program
yang dikelola sehingga berpengaruh
terhadap prestasi siswa dan meningkatnya kinerja sekolah.
Kata Kunci: pengelolaan kelas, pembelajaran, motivasi
Abstrac:The purpose of this study is to find out how schools apply the concept of developing an education management system in their schools, as well as how to improve quality by implementing approaches and problems in the education management system that arise in it. And also can know that schools apply the concepts of education management systems. The method used is the development method, by developing a regular classroom management system so that it can analyze its development so that the system can meet the needs of the school under study. The results showed that the preparation of class management programs was guided by the basic principles of the existing education management system, the implementation of classroom management conducted by principals involving all school supporters, the benefits of implementing classroom management management were the improvement of managed programs so that it affected student achievement and increasing school performance.
Dalam
manajemen pendidikan terdapat beberapa substansi, salah satunya adalah manajemen
sarana prasarana. Manajemen sarana prasarana Menurut Rohiat (2012:26) kegiatan
yang mengatur untuk mempersiapkan segala perlatan/material bagi
terselenggaranya proses pendidikan di sekolah. dalam manajemen sarana prasarana
terdapat perencanaan pengadaan, pendayagunaan, dan pengawasan sarana dan
prasarana yang digunakan agar tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai
dengan efektif dan efisien. Perlu adanya pengelolaan sarana prasarana yang
baik. pengorganisasian ruang kelas termasuk salah satu cara untuk menjaga
kondisi sarana prasana agar tetap baik serta untuk menciptakan suasana belajar
mengajar yang nyaman. Menurut Nurabadi (2016:30) aspek yang harus diperhatikan pada
fasilitas fisik kelas adalah pengaturan alat pelajaran, pengaturan ruangan dan tata
usaha kelas.
Berdasarkan analisis
SWOT ditemukan kelebihan, kekurangan, peluang, serta ancaman. Pada TK Yala
Widya memiliki kelebihan yakni mampu menjalin hubungan baik dengan masyarakat,
TK memberikan biaya spp yang terjangkau untuk masyarakat, tenaga Pendidik
sesuai dengan standart kompetensi guru yang cukup baik. Kelemahannya adalah
fasilitas yang kurang memadai, penataan ruang yang kurang baik, dan lahan dan
bangunan yang masih menumpang. Terdapat
peluang pada TK ini yaitu terletak di tempat yang
strategis, mendapat kepercayaan dari masyarakat, mendapat dukungan finansial
dari yayasan, mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran dengan didukung
oleh tenaga pendidik yang berkompeten, dan memiliki
esktrakurikuler tari yang dikenal masyarakat luas. Namun terdapat ancaman,
antara lain: TK bisa di gusur oleh pihak yang mempunyai lahan, tidak dapat
mengikuti akreditasi karena lahan bukan milik sendiri, persaingan yang ketat
karena dalam satu daerah terdapat banyak TK yang lebih unggul, dan keterbatasan
dana yang mengakibatkan sulitnya memperbaiki sarana prasarana.
Dari
penjabaran di atas, masalah yang mendesak adalah pengaturan ruang kelas yang
dimulai dengan hiasan dinding dan pengaturan tempat duduk yang ada di kelas.
Pengaturan kelas yang baik akan menimbulkan suasana kondusif dan menunjang
kegiatan belajar mengajar lebih baik. Sehingga pengembangan sistem yang akan
dilakukan adalah pengaturan ruang kelas yang dimulai dari penataan tempat duduk
serta menambah atau memperbaiki hiasan dinding yang dapat menjadi penyemangat
dan juga penarik perhatian bagi siswa taman kanak-kanak diharapkan dengan itu
dapat meningkatkan motivasi belajar anak. Dari segi ketersediaan waktu, biaya, dan daya dukung
lainnya, pengembangan sistem ini dapat dilakukan dengan ketersediaan waktu dari
para anggota kelompok dan kesediaan dari kepala sekolah dan guru TK Yala Widya.
Biaya untuk pengembangan sistem ini berasal dari sumbangan anggota kelompok.
METODE
Penelitian
ini menggunakan metode pengembangan
yakni dengan cara mengembangkan suatu sistem dan menganalisa apa saja yang
dibutuhkan oleh sistem yang akan dikembangkan, di TK Yala Widya pengembangan
yang dilakukan yakni mengenai pengelolaan kelas, melalui metode ini para
anggota kelompok melakukan pengembangan mulai dari sistem dekorasi kelas sampai
dengan sistem tata ruang sarana yang ada di kelas. Penelitian
Pengembangan (research and development)
adalah penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan atau menghasilkan suatu
produk, program, atau model kegiatan
tertentu. Tujuan penelitian pengembangan tidak ditekankan untuk menguji atau memformulasikan hipotesis, tetapi suatu
produk, yang bisa berupa, bahan, alat, program, atau Model. Penelitian tindakan atau penelitian
operasional, juga bisa menghasilkan produk, akan tetapi ada perbedaanya. Pada
penelitian tindakan lebih ditekankan pada pemecahan masalah, dan perbaikan
dilakukan selama proses penelitian. Produk yang dihasilkan sebagai model
pemecahan masalah dilakukan selama proses penelitian. Sedangkan penelitian
pengembangan, lebih ditekankan pada usaha untuk menghasilkan produk yang lebih
baik. Seperti halnya Menurut Ulfatin
(2015) pada tahapan pengembangan, peneliti berusaha menindak lanjuti hasil
penelitiannya dengan menghasilkan produk pengembangan. Anggota kelompok juga
membuat beberapa produk penunjang pembelajaran di TK Yala Widya yang salah satu
hasilnya adalah Pigora untuk memperlihatkan tema pembelajaran.
HASIL
Tahap
Awal Kegiatan Pengembangan
Dalam kegiatan
awal pengembangan, tim pengembangan mendatangi sekolah untuk meminta izin,
selanjutnya melakakukan wawancara terlebih dahulu dengan Kepala TK Yala Widya,
yakni Bekti
Rahayu, A.Ma.Pd mengenai permasalahan-permasalahan yang
dihadapi oleh sekolah. Setelah melakukan wawancara, tim pengembang berkeliling
untuk melihat kondisi sekolah. Pada saat wawancara tim pengembang juga
melakukan analisis permasalahan yang dihadapi oleh sekolah. Berikut
permasalahan yang yang telah diidentifikasi oleh tim pengembang berdasarkan
hasil wawancara tersebut.
1.
Penataan ruang yang
kurang.
2.
Hiasan dinding yang ada
terlihat sudah lama belum diganti.
3.
Sarana prasarana yang
belum memadai.
4.
Finansial sekolah dalam
keadaan kurang baik karena pada tahun ini sekolah tidak mendapat dana BOS.
Dari
permasalahan-permasalahan yang ada, tim pengembang memilih dan memilah
permasalahan yang perlu dilakukan pengembangan agar
kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap mampu berjalan dengan baik.
Tahap
Inti Kegiatan Pengembangan
Setelah bahan tersedia, tim pengembang melaksanakan
pengembangan tersebut dengan membawa dan menyiapkan bahan serta alat yang akan
digunakan. Kegiatan dimulai dari proses persiapan yang dimulai
membersikan kelas serta menurunkan hiasan dinding yang ada agar memudahkan
dalam proses pemasangan dan juga pengecatan. Pengembangan pertama dilakukan di
kelas TK-B terlebih dahulu, yakni melakukan pengecatan dinding bagian bawah
karena warna cat pada dinding bagian bawah telah pudar. Setelah melakukan
pengecatan, selanjutnya menambah atau melakukan pemasangan hiasan dinding atau
gambar diantara batasan antara dinding bagian atas dan bawah. Dalam pemasangan
ini guru TK-B dan kepala sekolah terlibat dalam memilih tempat yang untuk
hiasan dinding dipasang. Pada tahap ini tim pengembang mendapatkan kendala
dikarenakan terdapat hasil karya guru dan peserta didik yang lain sehingga guru
dan kepala sekolah membantu dalam mengatasi kendala ini dengan memberikan
solusi. Selanjutnya adalah melakukan penataan pada kursi serta meja guru dan
peserta didik, tidak hanya meja dan kursi tetapi keberadaan lemari juga
diperhatikan agar mengganggu.
Kegiatan
yang selanjutnya dilakukan di kelas TK-A, yang dimulai dengan membersihkan
hiasan dinding dan juga hiasan-hiasan lainnya. Selanjutnya, menyingkirkan
barang yang tidak dibutuhkan di dalam kelas tersebut. Hiasan dinding mulai
dipasangkan dengan dibantu oleh guru TK-A dan kepala sekolah. Untuk hiasan yang
telah usang maka akan digantikan dengan hiasan yang baru. Pada saat memasang
hiasan, beberapa tim pengembang membuat tempat pigura untuk menempelkan tema
yang sesuai dengan pelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Pigura ini
merupakan permintaan dari guru kelas yang pada awal tim pengembang telah
meminta pendapat mengenai yang dibutuhkan. Setelah selesai, pigura dipasangkan
di tempat yang telah disediakan. Kegiatan terakhir dalam pengimplementasian ini
adalah menata ruang kelas dari meja dan kursi, lemari, dan tempat mainan anak.
Semua itu dilakukan agar peserta didik dapat belajar dengan baik serta dapat
bebas bergerak selama di kelas.
Dalam pengaturan
ruang kelastim pengembang menata tempat anak duduk dengan bekelompok agar
memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu serta memantau tingkah
laku anak didik dalam belajar. Dalam
tahap inti ini, pihak sekolah sangat membantu tim pengembang untuk melaksanakan
pengembangnnya.
Tahap
Akhir Kegiatan Pengembangan
Pada tahap
akhir, tim pengembang meminta izin untuk memasuki kelas guna melihat
pembelajaran di kelas. Pada saat memasuki kelas, guru menanyakan mengeneai
hiasan-hiasan yang baru dikelas dan bagaimana perasaan dari peserta didik.
Peserta didik mengungkapkan bahwa mereka senang dengan suasana kelas yang baru
dengan hiasan-hiasan yang baru. Pembelajaran yang ada juga berjalan dengan baik
dan guru juga merasa terbantu dengan adanya hiasan dinding tersebut karena
beberapa hiasan dinding berupa angka dan huruf yang disertai dengan gambar
binatang. Pada saat di kelas TK-A tim pengembang, dipersilahkan untuk membantu
guru dalam melaksanakan pembelajaran.
Setelah selesai melakukan
pengimplementasian, tim pengembang melakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan
ketika peserta didik telah pulang. Dalam hal ini, kepala sekolah menyampaikan
bahwa pengembangan ini dapat dikatakan sukses dan berjalan dengan baik.
Selanjutnya, kepala sekolah dan guru
menyampaikan kesan dan pesannya selama dilakukannnya pengembangan ini. Tim
pengembang mengucapkan terima kasih kepada sekolah telah diberikan kesempatan
untuk melakukan pengembangan ini.
PEMBAHASAN
Tahap
Awal Kegiatan Pengembangan
Dalam kegiatan
awal pengembangan, tim pengembangan mendatangi sekolah untuk meminta izin,
selanjutnya melakakukan wawancara terlebih dahulu dengan Kepala TK Yala Widya,
yakni Bekti
Rahayu, A.Ma.Pd mengenai permasalahan-permasalahan yang
dihadapi oleh sekolah. Setelah melakukan wawancara, tim pengembang berkeliling
untuk melihat kondisi sekolah. Pada saat wawancara tim pengembang juga
melakukan analisis permasalahan yang dihadapi oleh sekolah. Berikut
permasalahan yang yang telah diidentifikasi oleh tim pengembang berdasarkan
hasil wawancara tersebut.
1.
Penataan ruang yang
kurang.
2.
Hiasan dinding yang ada
terlihat sudah lama belum diganti.
3.
Sarana prasarana yang
belum memadai.
4.
Finansial sekolah dalam
keadaan kurang baik karena pada tahun ini sekolah tidak mendapat dana BOS.
Menurut
Bafadal (2003) manajemen sarana dan prasarana pendidikan dapat didefinisikan
sebagai proses kerja sama pendayagunaan semua sarana dan prasarana pendidikan
secara efektif dan efisien. Dalam mengelola sarana dan prasarana di sekolah
dibutuhkan suatu proses sebagaimana terdapat dalam manajemen yang ada pada
umumnya, yaitu : mulai dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan,
pemeliharaan dan pengawasan. Apa yang dibutuhkan oleh sekolah perlu
direncanakan dengan cermat berkaitan dengan sarana dan prasarana yang mendukung
semua proses pembelajaran. Sarana pendidikan ini berkaitan erat dengan semua
perangkat, peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam
proses belajar mengajar. Salah satu sarana yang berada di sekolah yaitu adalah kelas.
Kelas merupakan tempat dimana segala aspek pembelajaran bertemu dan berproses
bersama.
Dari permasalahan-permasalahan yang ada, tim
pengembang memilih dan memilah permasalahan yang perlu dilakukan pengembangan
agar kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap mampu berjalan dengan baik. Menurut
Djamarah (1996:227), agar tercipta
suasana belajar yang menggairahkan, maka perlu diperhatikan pengaturan dan penataan ruang
kelas/belajar. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan
anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara kuasa untuk membantu
peserta
didik dalam belajar. Dalam pengaturan perlu diperhatikan
hal-hal berikut: Ukuran dan bentuk kelas, bentuk serta ukuran bangku dan meja
peserta didik. jumlah peserta
didik dalam kelas, jumlah peserta
didik dalam setiap kelompok, jumlah kelompok dalam kelas, komposisi
peserta
didik dalam kelompokseperti peserta
didik pandai dengan peserta didik kurang pandai, pria dan wanita.
Dari
hasil tersebut, tim pengembang menyusun proposal yang selanjutnya akan diajukan
diajukan ke sekolah. Kepala sekolah menyetujui proposal pengembangan ruang
kelas tersebut dan memberikan masukan dalam pengembangan ini. Kepala sekolah
menyerahkan sepenuhnya kepada tim pengembang dan dapat berkoordinasi dengan
guru masing-masing kelas. Tim pengembang menerima masukan tersebut dan
mengembangkan konsep dan ide dengan mengkonsultasikan mengenai aspek penataan
ruang kelas yang diinginkan oleh kepala sekolah dan guru. Tim pengembang
meminta izin untuk melakukan pengembangan pada jam pulang sekolah agar tidak
mengganggu kegiatan belajar mengajar di
sekolah. Dengan adanya persetujuan dari pihak sekolah, tim pengembang menentukan
bahan dan alat yang akan digunakan dalam menata ruang kelas.
Menurut Azizah (2017:49),
Pengorganisasian kelas dimulai dari pengelompokan peserta didik berdasarkan
kecerdasan mereka. Pengorganisasian dilakukan guru supaya dapat membuat
strategi pembelajaran yang tepat, efektif, dan efisien. Jika pengelompokan
tidak dilakukan, guru mengalami kesulitan dalam menetapkan standar kompetensi
hasil pembelajaran yang telah dilakukan, dan di dalam organisasi sebagai
seorang ketua oragnisasi akan turut membatu pada proses pengorganisasian agar
pembagian kerja para anggota organisasi jelas dan bisa terkontrol oleh ketua
organisasi.
Tujuan dalam pengorganisasian kelas
adalah mewujudkan terciptanya suasana belajar mengajar yang efektif dan
menyenangkan serta dapat memotivasi peserta didik untuk dapat belajar dengan
baik sesuai kemampuan mereka.
Serta tujuan umumnya yakni pengelolaan kelas adalah
menyediakan dan menggunakan fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan
belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik
Menurut Usman (2002) dalam Kadir (2014:23), didalam pengorganisasian Mengelola kelas terdapat
tujuan khusus yakni mengembangkan kemampuan siswa dalam
menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan
peserta didik untuk memperoleh hasil yang diharapakan.
Tahap
Inti Kegiatan Pengembangan
Setelah bahan
tersedia, tim pengembang melaksanakan pengembangan tersebut dengan membawa dan
menyiapkan bahan serta alat yang akan digunakan. Kegiatan dimulai
dari proses persiapan yang dimulai membersikan kelas serta menurunkan hiasan
dinding yang ada agar memudahkan dalam proses pemasangan dan juga pengecatan.
Pengembangan pertama dilakukan di kelas TK-B terlebih dahulu, yakni melakukan
pengecatan dinding bagian bawah karena warna cat pada dinding bagian bawah
telah pudar. Setelah melakukan pengecatan, selanjutnya menambah atau melakukan
pemasangan hiasan dinding atau gambar diantara batasan antara dinding bagian
atas dan bawah. Dalam pemasangan ini guru TK-B dan kepala sekolah terlibat
dalam memilih tempat yang untuk hiasan dinding dipasang. Pada tahap ini tim
pengembang mendapatkan kendala dikarenakan terdapat hasil karya guru dan
peserta didik yang lain sehingga guru dan kepala sekolah membantu dalam
mengatasi kendala ini dengan memberikan solusi. Selanjutnya adalah melakukan penataan
pada kursi serta meja guru dan peserta didik, tidak hanya meja dan kursi tetapi
keberadaan lemari juga diperhatikan agar mengganggu. Sebagaimana menurut Rianto(2007:1), pengelolaan kelas merupakan upaya
pendidik untuk menciptakan dan mengendalikan kondisi belajar serta
memulihkannya apabila terjadi gangguan dan/atau penyimpangan, sehingga proses
pembelajaran dapat berlangsung secara optimal.
Kegiatan yang
selanjutnya dilakukan di kelas TK-A, yang dimulai dengan membersihkan hiasan
dinding dan juga hiasan-hiasan lainnya. Selanjutnya, menyingkirkan barang yang
tidak dibutuhkan di dalam kelas tersebut. Hiasan dinding mulai dipasangkan
dengan dibantu oleh guru TK-A dan kepala sekolah. Untuk hiasan yang telah usang
maka akan digantikan dengan hiasan yang baru. Pada saat memasang hiasan,
beberapa tim pengembang membuat tempat pigura untuk menempelkan tema yang
sesuai dengan pelajaran yang akan disampaikan oleh guru. Pigura ini merupakan
permintaan dari guru kelas yang pada awal tim pengembang telah meminta pendapat
mengenai yang dibutuhkan. Setelah selesai, pigura dipasangkan di tempat yang
telah disediakan. Kegiatan terakhir dalam pengimplementasian ini adalah menata
ruang kelas dari meja dan kursi, lemari, dan tempat mainan anak. Semua itu
dilakukan agar peserta didik dapat belajar dengan baik serta dapat bebas
bergerak selama di kelas. Dalam menata ruang kelas, tim pengembang
memperhatikan beberapa prinsip menurut Loisell dalam Winataputra, (2003:9) yaitu: (1)
Visibility( Keleluasaan Pandangan), artinya penempatan dan penataan
barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan peserta didik, sehingga
peserta didik secara leluasa dapat memandang guru, benda atau kegiatan yang
sedang berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua peserta didik
kegiatan pembelajaran. (2) Accesibility (mudah dicapai), penataan
ruang harus dapat memudahkan anak didik untuk meraih atau mengambil
barang-barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. (3)
Fleksibilitas (Keluwesan), barang-barang di dalam kelas
hendaknya mudah ditata dan dipindahkan yang disesuaikan dengan kegiatan
pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika proses
pembelajaran menggunakan metode diskusi, dan kerja kelompok. (4)
Kenyamanan, berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara,
dan kepadatan kelas. (5) Keindahan, Prinsip keindahan ini berkenaan
dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi
kegiatan belajar. Menurut
Rahmawati (2013) Pelaksanaan dilakukan guru dengan mengkondisikan
kelas, mengatur lingkungan fisik kelas, menciptakan hubungan baik guru dengan
siswa, mengatasi masalah disiplin, memberikan pujian dan hadiah, menggunakan
metode yang bervariasi, memberikan hukuman dan menciptakan kondisi belajar
mengajar yang efektif. Kendala
dalam pelaksanaan pengelolaan kelas yaitu kondisi guru yang tidak fit,
penggunaan metode pembelajaran yang tidak sesuai, kurangnya sikap disiplin dan
kesadaran siswa dalam memenuhi tugas dan haknya di kelas, siswa belum siap
menerima pelajaran dan fasilitas tidak dimanfaatkan dan dipelihara dengan baik Upaya mengatasi kendala dalam yaitu
dengan memberikan motivasi kepada siswa, menunjukkan perilaku disiplin,
memberikan penguatan kepada siswa, mencatat siswa yang berperilaku menyimpang
di buku tata tertib, menegur siswa yang ramai serta membuat peraturan di dalam
kelas yang wajib ditaati siswa dan memelihara fasilitas dengan membersihkan dan
melengkapi alat-alat di kelas.Guru
saling membantu dalam pengelolaan kelas, dan memiliki kerja sama yang baik agar
tercipta kondisi kelas yang baik dan kondusif.
Dalam pengaturan
ruang kelastim pengembang menata tempat anak duduk dengan bekelompok agar
memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu serta memantau tingkah
laku anak didik dalam belajar. Dalam
tahap inti ini, pihak sekolah sangat membantu tim pengembang untuk melaksanakan
pengembangnnya.
Tahap
Akhir Kegiatan Pengembangan
Pada tahap
akhir, tim pengembang meminta izin untuk memasuki kelas guna melihat
pembelajaran di kelas. Pada saat memasuki kelas, guru menanyakan mengeneai
hiasan-hiasan yang baru dikelas dan bagaimana perasaan dari peserta didik.
Peserta didik mengungkapkan bahwa mereka senang dengan suasana kelas yang baru
dengan hiasan-hiasan yang baru. Pembelajaran yang ada juga berjalan dengan baik
dan guru juga merasa terbantu dengan adanya hiasan dinding tersebut karena
beberapa hiasan dinding berupa angka dan huruf yang disertai dengan gambar
binatang. Pada saat di kelas TK-A tim pengembang, dipersilahkan untuk membantu
guru dalam melaksanakan pembelajaran.
Setelah
selesai melakukan pengimplementasian, tim pengembang melakukan evaluasi.
Evaluasi dilakukan ketika peserta didik telah pulang. Dalam hal ini, kepala
sekolah menyampaikan bahwa pengembangan ini dapat dikatakan sukses dan berjalan
dengan baik. Selanjutnya, kepala sekolah
dan guru menyampaikan kesan dan pesannya selama dilakukannnya pengembangan ini.
Tim pengembang mengucapkan terima kasih kepada sekolah telah diberikan kesempatan
untuk melakukan pengembangan ini. Tim pengembang memberikan banner dan juga
brosur kepada sekolah, hal ini dapat berguna untuk sekolah dalam melakukan
promosi. Pihak sekolah mengungkapkan rasa puas dan senangnya dengan banner dan
brosur yang diberikan oleh tim pengembang serta ruang kelas dengan suasana
baru.
Menurut burhanudin
(2014) Di Dalam pengelolannya, sekolah memerlukan adanya
monitoring dan evaluasi guna mencapai tujuan dari pendidikan agar prosesnya
dapat terlaksana dengan baik. Monitoring dan evaluasi merupakan bagian integral
dari pengolahan pendidikan, baik di tingkat mikro (sekolah), meso (Dinas
Pendidikan Kabupaten/Kota, dan Dinas Pendidikan Propinsi), maupun makro
(Departemen). Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa dengan monitoring dan
evaluasi, kita dapat mengukur tingkat kemajuan pendidikan pada tingkat sekolah,
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Propinsi, dan Departemen, monitoring tersebut juga salah satunya melihat dari bagaimana penaatan
ruang kelas yang ada di sekolah tersebut.
Tujuan monitoring
dan evaluasi ditunjukan untuk mengetahui ketercapaian dan kesesuaian anatar
rencana yang ditetapkan dengan hasil yang dicapai berdasarkan program dan
kegiatan yakni dengan program pengelolaan kelas itu sendiri, secara spesifik
monitoring dilakukan untuk mencegah penyimpangan terhadap input dan proses.
Serta evaluasi yang
dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh kesesuaian hasil yang telah dicapai
dalam proses pelaksanaan yakni program pengelolaan kelas secara hasil nyata
dengan hasil yang di harapkan sebagaimana tertulis dalam program tersebut.
Berdasarkan program pengembangan yang dilakukan
oleh tim pengembang di TK Yala Widya, tim pengembang menemukan beberapa
kelemahan dan kelebihan dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas. Berikut
kelebihan selama implementasi pengelolaan kelas yakni: (1) Sangat efektif dalam
pembelajaran; (2) siswa menjadi sangat nyaman dengan keadaan kelas yang baik,
bila kegiatan ini sukses dilakukan; (3) menjadikan pembelajaran lebih nyaman;
(4) siswa menjadi cepat menanggapi setiap pembelajaran yang ada ; dan (5) siswa
dapat belajar dengan baik, karena adanya dekorasi yang mendukung dalam
pembelajaran kelas. Sedangkan kelemahan selama implementasi pengelolaan kelas
yakni; (1) biasanya kurang adanya perawatan secara berkala terhadap pengelolaan
kelas; (2) siswa terkadang kurang fokus terhadap pembelajaran akibat dekorasi
yang berlebihan; dan (3) Partisipasi siswa untuk menjaga kelas agar lebih
tampak rapi kurang
KESIMPULAN
Pengelolaan kelas sangat dibutuhkan agar kelas terlihat
kondusif dan teratur, perencaan juga bisa di mulai dari merencanakan kebutuhan
sarana dan prasana sekolah. Pelaksanaan dilakukan guru dengan
mengkondisikan kelas, mengatur lingkungan fisik kelas, menciptakan hubungan
baik guru dengan siswa, mengatasi masalah disiplin, memberikan pujian dan
hadiah, menggunakan metode yang bervariasi, memberikan hukuman dan menciptakan
kondisi belajar mengajar yang efektif. Kendala
dalam pelaksanaan pengelolaan kelas yaitu kondisi guru yang tidak fit,
penggunaan metode pembelajaran yang tidak sesuai, kurangnya sikap disiplin dan
kesadaran siswa dalam memenuhi tugas dan haknya di kelas, siswa belum siap
menerima pelajaran dan fasilitas tidak dimanfaatkan dan dipelihara dengan baik. Dan pengorganisasian kelas adalah
mewujudkan terciptanya suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan
serta dapat memotivasi peserta didik untuk dapat belajar dengan baik sesuai
kemampuan mereka. Serta diadakan
monitoring dan evaluasi dengan tujuan untuk mengetahui ketercapaian dan
kesesuaian anatar rencana yang ditetapkan dengan hasil yang dicapai berdasarkan
program dan kegiatan yakni dengan program pengelolaan kelas itu sendiri, secara
spesifik monitoring dilakukan untuk mencegah penyimpangan terhadap input dan
proses.
DAFTAR
RUJUKAN
Nurabadi, A.
2016. Manajemen Kelas Berbasis Peserta
Didik. Malang: Universitas Negeri Malang.
Azizah,
Mar’atul. 2017. Implementasi
Manajemen Kelas Dalam Meningkatkan Keefektifan Pembelajaran Tafsir Ahkam di MTs
Al Urwatul Wutsqo Jombang. Al-Idaroh:
Jurnal Studi Manajemen Pendidikan Islam, (Online), 1 (1): 37-61, (http://jurnal.stituwjombang.ac.id),
diakses 24 Agustus 2018.
Bafadal,
Ibrahim. 2004. Manajemen Perlengkapan Sekolah. Jakarta : PT BUMIKARSA.
Rahmawati, Eka
Lina. 2013. Pelaksanaan Pengelolaan Kelas
di SD Negeri Kauman 1 Kecamatan Klojen Kota Malang. (Online) (http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/KSDP/article/view/25477). ). Di akses 3
Oktober 2018.
Burhanuddin, A. 2014. Monitoring dan Evaluasi Satuan Pendidikan.(https://afidburhanuddin.wordpress.com/2014/01/20/%C2%AD%C2%AD%C2%ADmonitoring-dan-evaluasi-pengelolaan-satuan-pendidikan/) (Online). Di akses 5 Oktober 2018.
Ariestadi.
D. 2010. Kajian Dan Pengembangan Standar Bangunan Taman Kanak-Kanak Sebagai Upaya
Peningkatan Mutu Pendidikan Anak Usia Dini Di Indonesia. (Online),
(https://download.portalgaurda.org). Di akses 3 Oktober 2018.
Azizah,
Mar’atul. 2017. Implementasi
Manajemen Kelas Dalam Meningkatkan Keefektifan Pembelajaran Tafsir Ahkam di MTs
Al Urwatul Wutsqo Jombang. Al-Idaroh:
Jurnal Studi Manajemen Pendidikan Islam, (Online), 1 (1): 37-61, (http://jurnal.stituwjombang.ac.id),
diakses 24 Agustus 2018.
Bafadal,
Ibrahim. 2014. Manajemen Perlengkapan Sekolah. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Djamarah,
Syaiful Bahri. 1996. Strategi Belajar
Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Kadir,
Abdul. 2003. Pengenalan Sistem Informasi.
Yogyakarta: Andi Offset
Kadir,
St Fatimah. 2014. Keterampilan
Mengelola Kelas dan Implementasinya dalam Proses Pembelajaran.
Jurnal Ta’dib, (Online), 7 (2):
16-36, (http://ejournal.iainkendari.ac.id),
diakses 24 Agustus 2018.
Nurabadi, Ahmad. 2016. Manajemen Kelas Berbasis Peserta Didik. Malang: Universitas Negeri
Sukmadinata, N. S. 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Ulfatin, N. 2015.
Metode Penelitian Kualitatif di Bidang Pendidikan: Teori dan Aplikasinya.
Malang: Media Nusa Creative.






0 komentar:
Posting Komentar