Rabu, 01 Mei 2019

PERKEMBANGAN REMAJA (TEORI, ANALISIS KASUS DAN SOLUSINYA)

PERKEMBANGAN REMAJA

(TEORI, ANALISIS KASUS DAN SOLUSINYA)

Oleh:
Ramadhanti Dita Nur Safitri
BAB I
PENDAHULUAN
Pada bab ini diuraikan tentang (a) Latar Belakang, (b) Rumusan Masalah, dan (c) Tujuan Pembahasan.
A.   Latar Belakang
Bandura, menyatakan bahwa teori ini dipengaruhi oleh factor perilaku, lingkungan, dan pribadi atau kognitif, seperti keyakinan, perencanaan, dan berpikir, dapat berinteraksi secara timbal balik. Ini artinya lingkungan dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Teori ini mengidentifikasikan lima sistem lingkungan, yang berkisar dari interaksi langsung dengan agen-agen sosial hingga input budaya yang luas. Kelima system dalam teori ekologis menurut Bronfenbrenner adalah mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem dan kronosistem. Namun ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, seseorang dapat bertindak untuk mengubah lingkungan seperti faktor kognitif atau pribadi dapat mempengaruhi perilaku seseorang begitu sebaliknya. Seperti pendekatan perilaku Skinner, pendekatan sosial kognitif menekankan pentingnya penelitian empiris dalam mempelajari perkembangan. Faktor yang paling berpengaruh adalah faktopr lingkungan dimana remaja tersebut tinggal. Faktor lingkungan yang baik akan membuat remaja tersebut memiliki perilaku yang baik, sedangkan lingkungan yang buruk dapat mempengaruhi perilaku remaja mennjadi buruk. Hal ini dapat ditangani dengan lebih memperbanyak pengetahuan tentang apa bahaya seks itu sendiri.
B.  Rumusan Masalah
1.    Bagaimana teori perkembangan remaja?
2.    Bagaimana contoh kasus seksual yang marak di remaja?
3.    Bagaimana analisis kasus seksualitas dalam konteks perkembangan remaja?
4.    Apa saja solusi konseptual yang dibutuhkan?
5.    Bagaimana peran Administrasi Pendidikan (AP) pada kasus seksualitas?
C.  Tujuan Pembahasan
1.    Menjelaskan teori perkembangan remaja.
2.    Menjelaskan contoh kasus seksualitas.
3.    Menganalisis kasus seksualitas dalam konteks perkembangan remaja.
4.    Menguraikan solusi konseptual yang dibutuhkan.
5.    Menjelaskan peran Administrasi Pendidikan (AP) pada kasus seksualitas.
 
BAB II
BAHASAN
            Pada bab ini diuraikan tentang (a) teori perkembangan remaja, (b) kasus seksualitas, (c) analisis kasus, (d) solusi konseptual, (e) peran administrasi pendidikan.

A.     TEORI PERKEMBANGAN REMAJA
1.      Teori Kognitif Sosial
Beberapa ahli psikologi setuju dengan pendapat para behavioris yang menyatakan bahwa perkembangan itu dipelajari dan dipengaruhi secara kuat oleh lingkungan. Meskipun demikian, mereka menganggap bahwa pendapat Skinner terlalu jauh ketika ia mengatakan bahwa faktor pribadi atau kognisi tidak penting dalam memahami perkembangan. Teori Kognitif Sosial (social cognitive  theory )  menyatakan bahwa perilaku, lingkungan dan kognisi merupakan faktor-faktor penting dalam perkembangan.
Albert Bandura (1986, 1997, 2000, 2001, 2004) dan Walter Mischel (1973, 1995, 2004) adalah arsitek dari versi kontemporer teori kognisi sosial, yang awalnya oleh Mischel (1973) dinamai teori pembelajaran sosial kognitif (cognitive social learning theory).  Bandura, menyatakan bahwa teori ini dipengaruhi oleh factor perilaku, lingkungan, dan pribadi atau kognitif, seperti keyakinan, perencanaan, dan berpikir, dapat berinteraksi secara timbal balik. Ini artinya lingkungan dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Namun ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, seseorang dapat bertindak untuk mengubah lingkungan seperti faktor kognitif atau pribadi dapat mempengaruhi perilaku seseorang begitu sebaliknya. Seperti pendekatan perilaku Skinner, pendekatan sosial kognitif menekankan pentingnya penelitian empiris dalam mempelajari perkembangan. Penelitian ini berfokus pada proses-proses yang menjelaskan perkembangan faktor sosioemosional dan kognitif yang mempengaruhi cara kita hidup bermasyarakat.
 
        2. Teori Kontekstual Ekologis
Teori ini mengidentifikasikan lima sistem lingkungan, yang berkisar dari interaksi langsung dengan agen-agen sosial hingga input budaya yang luas. Kelima system dalam teori ekologis menurut Bronfenbrenner adalah mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem dan kronosistem yakni:

a.       Mikrosistem
Situasi dimana remaja hidup yang meliputi keluarga, kawan-kawan sebaya, sekolah, dan lingkungan sekitar. Dalam mikrosistem terjadi interaksi yang paling langsung antara remaja dengan lingkungan sekitarnya.
b.      Mesosistem
Relasi antara dua mikrosistem atau lebih. Contohnya adalah relasi antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, pengalaman sekolah dengan pengalaman keagamaan, da pengalaman keluarga dengan pengalaman bersama kawan-kawan sebaya.
c.       Eksosistem
Situasi social dimana remaja tidak memiliki peran aktif namun mempengaruhi pengalaman remaja. Contohnya pengalaman seorang ibu ditempat kerjanya mungkin dapat mempengaruhi relasinya dengan suami dan anak remajanya.
d.      Makrosistem
Budaya dimana remaja hidup. Budaya merujuk pada pola-pola perilaku, keyakinan, dan semua produk dari sekelompok manusia yang diteruskan dari generasi ke generasi.
e.       Kronosistem
Pola dari peristiwa-peristiwa lingkungan dan tansisi dari rangkaian kehidupan dan keadaan-keadaan sosio-historis. Sebagai contoh, dalam studi mengenai dampak perceraian terhadap anak-anak. Dampak negatif tersebut seringkali memuncak di tahun pertama setelah perceraian.

 
         B.     KASUS
   KASUS 1
   Nama Kasus      : Kopi Darat dengan Teman Facebook, Gadis Cantik Ini Nyaris Kehilangan  Keperawanan
    Tempat              : Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang, Sumatera Selatan
    Waktu               : Selasa, 28 February 2016
    Pelaku               : RK (19)
      Sebab              : Korban berkenalan dengan pelaku lewat media sosial facebook dan berkomunikasi dalam sambungan telepon. 
     Akibat              : Keduannya bertemu dan korban dibawa ke rumah kosong lalu diajak berhubungan intim (Pemerkosaan).

PALEMBANG – Selasa (28/2/2016) petang, beberapa hari sebelumnya korban berkenalan dengan terlapor RK melalui facebook. Komunikasi yang rutin di facebook dan sambungan telepon, rupanya tak cukup bagi mereka, sehingga keduanya memutuskan untuk kopi darat alias bertemu. Setelah berbincang lama, RK mengajak jalan-jalan dan membawanya ke rumah kosong. Disana RK mengunci pintu dan mengajak FS berhubungan intim. FS menolak dan RK melakukian kekerasan agar bisa memerkosa korban. RK langsung berteriak keluar dan akhirnya dibantu warga setempat. Kejadian itu diceritakan korban kepada ibunya dan ibunya melaporkan polisi.
Sumber : https://daerah.sindonews.com/read/1184218/190

KASUS 2
Nama Kasus    : Pesta Seks di Kamar Kos, Enam Remaja Digerebek Warga
Tempat             : Jalan Samari RT 18 Madurejo, Arut Selatan, Kotawaringin Barat, Kalteng
            Waktu              : Selasa, 27 Desember 2016 pukul 01.30 WIB
            Pelaku              : Enam Remaja ( Dua perempuan dan empat pria)
Sebab              : Enam remaja yang akan melakukan pesta seks di sebuah kamar kos
Akibat              : Tindakan itu diketahui oleh warga dan RT setempat dan akhirnya digrebek oleh  warga yang dipimpin oleh Ketua RT.
                       
            KOTAWARINGIN BARAT – Enam remaja empat laki-laki dan dua perempuan yang akan pesta seks di Jalan Samari RT 18 Madurejo, Arus Selatan, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat Kalteng digerebek warga, selasa (27/12/2016) dini hari pukul 01.30 WIB. Dua remaja perempuan E (14) dan LA (18) hanya mengenakan pakaian dalam yang ditutupi baju panjang sepanjang paha dalam posisi tidur dalam kamar bersama empat remaja pria ditempat terpisah. Enam remaja tersebut segera digelandang ke poskampling setempat untuk diintrogasi warga. Dua perempuan itu didata dan dipulangkan kerumah masing-masing, dua pria diserahkan ke Polres Kobar, karena tidak jelas identitasnya.
Sumber : https://daerah.sindonews.com/read/1166200/174

KASUS 3
Nama Kasus    : Dihamili Kekasih, Gadis Manis asal Palembang Lapor Polisi
            Tempat             : Ilir Timur Palembang
            Waktu              :  4 November 2016
            Pelaku              : AP (19)
Sebab              : Saat berpacaran sering melakukan hubungan suami istri
Akibat              : hamil dan ditinggal pergi oleh kekasihnya

PALEMBANG – RP (17) asal Ilir Timur Palembang ditemani orang tua mencari keberadaan kekasihnya AP (19) justru menghilang entah kemana setelah merenggut keperawanan RP yang kini tengah hamil lima bulan. Awal mula kejadian, AP merayu RP untuk menginap di kediamannya dengan alasan hari sudah malam. Pada awalnya RP menolak karena takut dimarahi oleh orang tuanya. Akan tetapi, orang tua AP mengijinkan RP tinggal di rumahnya. Saat malam sudah larut, AP merayu RP untuk berhubungan suami istri RP mengaku sempat menolaknya. Tetapi RP termakan rayuan AP dengan iming-iming dinikahi. Tetapi setelah RP kini tengah hamil, AP pergi entah kemana. Ketika di tanyakan kepada orang tua AP tentang keberadaan AP, justru RP dan orang tuanya dicaci maki bahkan menantang untuk lapor polisi.
                        Sumber: https://daerah.sindonews.com/read/1152899/190

C. Analisis Kasus
            Dari ketiga kasus diatas yang merupakan masalah perkembangan remaja yang dalam permasalahannya membahas tentang kasus seksualitas. Dari kasus pertama yakni, “Kopi darat dengan teman facebook, gadis cantik nyaris kehilangan keperawananya”. Dalam teori kognitif sosial dijelaskan bahwa teori ini dipengaruhi oleh factor perilaku, lingkungan, dan pribadi atau kognitif, seperti keyakinan, perencanaan, dan berpikir, dapat berinteraksi secara timbal balik. RK dan FS berada dalam usia remaja dimana usia ini sangat mudah terpengaruh dan berinteraksi secara mudah. Faktor pertama yang membuat gadis ini hampir kehilangan keperawannya karena dia sangat mudah bergaul dan berinteraksi terhadap orang lain serta mudah percaya pada semua orang. Faktor yang kedua dalam teori konstektual ekologi pada system mikrosistem yakni RK mungkin berada dalam lingkungan yang sangat buruk hingga dia memiliki rasa ingin tau yang tinggi dan memiliki tekad untuk melakukan hal yang tidak senonoh itu. Dan faktor yang ketiga adalah kurangnya pengawasan dari orang tua yang membuat para remaja bertindak seenaknya padahal dalam usia remaja inilah tugas orang tua yang paling berat apalagi orangtua yang memiliki anak perempuan. Akibat dari ketiga faktor tersebut membuat para remaja terutama FS ini mudah bergaul dan mudah percaya pada orang lain. Sehingga ia mudah diajak bertemu dan tindak kejahatan lebih mudah dilakukan pada dirinya. Sedangkan RK ini yang kurang perhatian dari orang tua serta lingkungan yang kurang baik baginya bisa membuat dia mampu melakukan hal hal atau perilaku yang sangat buruk bagi dirinya dan orang lain.
           Kasus yang kedua yakni, “Pesta Seks di Kamar Kos, Enam Remaja Digerebek Warga”. Dalam teori konstektual ekologi pada system mikrosistem yakni keenam remaja tersebut mungkin berada dalam lingkungan yang memang buruk sehingga melakukan pesta seks dianggap hal yang biasa. Pada mesosistem keenam remaja ini mungkin memiliki pengalaman-pengalaman yang tidak baik dari pengalaman keluarga maupun pengalaman bersama teman sebayanya. Dan pada ekosistem seorang perempuan yang bernama E(14) mengaku bahwa dirinya sering menemani pria untuk berkaraoke di tempat hiburan malam sedangkan ibunya pun juga melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh E(14). Dalam ekosistem dijelaskan bahwa peran aktif seorang ibu dapat mempengaruhi relasi pengalamannya. Sangat jelas bahwa keenam remaja ini berada dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang sangat buruk sehingga melakukan hal buruk pun itu hal yang sangat biasa. Akibatnya keenam remaja ini sangat mudah melakukan hal negative seperti pesta seks. Dan kurangnya perhatian orangtua pun juga berpengaruh penting terhadap pembentukan perilaku para remaja tersebut. 
           Sedangkan kasus yang ketiga yakni, “Dihamili Kekasih, Gadis Manis asal Palembang Lapor Polisi”. Dalam teori kognitif sosial dijelaskan bahwa teori ini dipengaruhi oleh factor perilaku, lingkungan, dan pribadi atau kognitif, seperti keyakinan, perencanaan, dan berpikir, dapat berinteraksi secara timbal balik. RP (17) dan AP(19) menjalin hubungan kekasih disinilah faktor yang membuat AP(17) yakin atau percaya dengan kekasihnya serta interaksi timbal balik yang dijanjikan oleh kekasihnya membuat AP (17) semakin percaya dan mau melakukan hubungan suami istri. Serta dijelaskan dalam teori kontekstual ekologis yaitu mesosistem, yang berarti relasi antara dua mikrosistem atau lebih. Contohnya adalah relasi antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, pengalaman sekolah dengan pengalaman keagamaan, da pengalaman keluarga dengan pengalaman bersama kawan-kawan sebaya. Hal ini terbukti dari orang tua dari AP yang mendukung jika anaknya melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh remaja. Karena remaja merasa dibebaskan serta kurang diawasi oleh orang tua, maka remaja dapat merasa bebas melakukan sesuatu sesuka hati yang belum sepenuhnya mengerti atau belum saatnya mengerti tentang seksual dan akibat kedepannya. Akibat dari kasus ini ialah, korban RP hamil dan pelaku AP hilang entah kemana saat akan dimintai pertanggungjawaban.   
           Dari ketiga kasus diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi perkembangan remaja adalah faktor lingkungan, kawan sebaya, pengalaman, perilaku, pribadi atau kognitif, budaya dan peristiwa – peristiwa yang ada disekitarnya. Karena faktor-faktor tersebut sangat melekat dengan anak remaja terutama usia antara 15-19 tahun. Banyak anak remaja yang mengira bahwa seksualitas adalah hal yang biasa padahal bahaya dari hubungan seksualitas bisa mengakibatkan hancurnya masa depan. Anak remaja mungkin lebih mudah terpengaruh karena pada masa perkembangannya rasa ingin tahu dari anak tersebut lebih tinggi. Dari pengalaman yang diperoleh anak remaja pun juga dapat menimbulkan keberanian pada diri mereka untuk melakukan seksualitas tersebut, misalnya melihat orang tua yang berkelakuan tidak baik atau orang tua yang bekerja di club malam dapat menimbulkan pemikiran anak remaja untuk meniru perilaku orang tua tersebut dan juga teman pergaulan yang salah juga mampu menimbulkan perbuatan seksualitas semakin sering dilakukan. Pengawasan oreang tua yang kurang terhadap anak remaja pun juga sangat berpengaruh dengan perkembangan remaja, karena remaja semakin bebas untuk melakukan perbuatan yang salah tanpa ada larangan dari orang tua. Remaja pun tidak mengetahui mana perbuatan yang salah dan mana perbuatan yang benar karena orang tua yang tidak mau atau kurang mengawasi anaknya. Serta budaya perilaku di lingkungan pun juga berpengaruh karena budaya atau kebiasaan akan membentuk perilaku pada diri remaja tersebut atau karakter pada remaja tersebut hal ini juga sangat penting karena juga akan berpengaruh ke generasi-generasi berikutnya.

     D.    Solusi Kasus 
     1.      Remaja harusnya diberi pengetahuan tentang seksual dan pendidikan seksual agar remaja tidak salah mengartikan seksual. Seperti pengartian remaja orang yang berhubungan seks sebagai pertanda cinta, tetapi berhubungan seks haruslah lebih dahulu mempunyaihubungan suami istri. 
     2.      Relasi kawan sebaya yang melakukan hal-hal yang positif, seperti gerakan sosial yang peduli akan lingkungan sekitarnya. Hal tersebut dapat membuat waktu remaja tersita dengan aktivitas-aktivitas yang positif dan tidak akan memikirkan aktivitas-aktivitas negative seperti seks bebas, narkoba, dan sejenisnya. 
     3.      Pembatasan internet tentang bidang seksual. Dengan membatasi artikel atau hal-hal yang menyangkut pornografi dibatasi, maka remaja tidak akan mudah mengakses hal-hal yang menyangkut pornografi tersebut.

    E.     Peran Administrasi Pendidikan
    Peran administrasi pendidikan dalam  pengendalian seks bebas ialah
    1.      Dapat menambahkan pengetahuan atau pendidikan seksual di dalam pelajaran di sekolah.
    2.      Dapat menambahkan ektrakurikuler yang lebih banyak agar siswa lebih sering menghabiskan waktunya dengan hal yang berguna.
    3.      Dapat mengadakan seminar atau penyuluhan tentang bahaya seks bebas dikalangan remaja sangat penting.
    4.      Dapat mensupervisi guru kelas untuk lebih memperhatikan para siswa yang bermasalah.
    5.      Dapat menganggarkan biaya untuk mendukung pelaksanaan penambahan pelajaran mengenai pengetahuan dan pendidikan dalam pelajaran di sekolah maupun mendukung pengadaan seminar atau penyuluhan tentang bahaya seks dikalangan remaja.


BAB III
PENUTUP
Pada bab ini diuraikan tentang (a) Simpulan dan (b) Saran.
A.   Simpulan
Kasus seksualitas merupakan salah satu kenakalan remaja yang sudah marak terjadi di kalangan remaja. Kasus ini disebabkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku remaja. Faktor yang paling berpengaruh adalah faktopr lingkungan dimana remaja tersebut tinggal. Faktor lingkungan yang baik akan membuat remaja tersebut memiliki perilaku yang baik, sedangkan lingkungan yang buruk dapat mempengaruhi perilaku remaja mennjadi buruk. Hal ini dapat ditangani dengan lebih memperbanyak pengetahuan tentang apa bahaya seks itu sendiri.
B.   Saran
Sebaiknya, pengetahuan ini dipelajari dengan cermat dan sunguh-sunguh  oleh pembaca, khususnya pihak-pihak yang terlibat dengan kasus seksualitas yang marak pada anak remaja. Hal ini, diharapkan penanganan kasus seksualitas dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien kedepannya, setelah pihak-pihak yang berwenang tahu bagaimana cara mencari penyebab dan solusi dari setiap permasalahan.

DAFTAR PUSTAKA

Santrock, john w. 2007. Remaja edisi kesebelas. Jakarta. Penerbit Erlangga
Sumber : Hariyanto, Adi. 2016. Kopi Darat dengan Teman Facebook, Gadis Cantik Ini Nyaris Kehilangan Keperawanan. Sindonews. (Online), (https://daerah.sindonews.com/read/1184218/190), Diakses 28 Maret 2017
Sumber : Dzakwan, Sigit. 2016. Pesta Seks di Kamar Kos, Enam Remaja Digerebek Warga. Sindonews. (Online), (https://daerah.sindonews.com/read/1166200/174), Diakses 28 Maret 2017
Sumber : Hariyanto, Adi. 2016. Dihamili Kekasih, Gadis Manis asal Palembang Lapor Polisi. Sindonews. (Online), (https://daerah.sindonews.com/read/1152899/190), Diakses 28 Maret 2017

0 komentar:

Posting Komentar