PERKEMBANGAN REMAJA
(TEORI,
ANALISIS KASUS DAN SOLUSINYA)
Oleh:
Ramadhanti
Dita Nur Safitri
BAB I
PENDAHULUAN
Pada
bab ini diuraikan tentang (a) Latar Belakang, (b) Rumusan Masalah, dan (c)
Tujuan Pembahasan.
A. Latar Belakang
Bandura, menyatakan bahwa teori ini dipengaruhi oleh
factor perilaku, lingkungan, dan pribadi atau kognitif, seperti keyakinan,
perencanaan, dan berpikir, dapat berinteraksi secara timbal balik. Ini artinya
lingkungan dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Teori ini mengidentifikasikan
lima sistem lingkungan, yang berkisar dari interaksi langsung dengan agen-agen
sosial hingga input budaya yang luas. Kelima system dalam teori ekologis
menurut Bronfenbrenner adalah mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem
dan kronosistem. Namun ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, seseorang
dapat bertindak untuk mengubah lingkungan seperti faktor kognitif atau pribadi
dapat mempengaruhi perilaku seseorang begitu sebaliknya. Seperti pendekatan
perilaku Skinner, pendekatan sosial kognitif menekankan pentingnya penelitian
empiris dalam mempelajari perkembangan. Faktor yang paling berpengaruh adalah
faktopr lingkungan dimana remaja tersebut tinggal. Faktor lingkungan yang baik
akan membuat remaja tersebut memiliki perilaku yang baik, sedangkan lingkungan
yang buruk dapat mempengaruhi perilaku remaja mennjadi buruk. Hal ini dapat
ditangani dengan lebih memperbanyak pengetahuan tentang apa bahaya seks itu
sendiri.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
teori perkembangan remaja?
2. Bagaimana
contoh kasus seksual yang marak di remaja?
3. Bagaimana
analisis kasus seksualitas dalam konteks perkembangan remaja?
4. Apa
saja solusi konseptual yang dibutuhkan?
5. Bagaimana
peran Administrasi Pendidikan (AP) pada kasus seksualitas?
C. Tujuan Pembahasan
1. Menjelaskan
teori perkembangan remaja.
2. Menjelaskan
contoh kasus seksualitas.
3. Menganalisis
kasus seksualitas dalam konteks perkembangan remaja.
4. Menguraikan
solusi konseptual yang dibutuhkan.
5. Menjelaskan
peran Administrasi Pendidikan (AP) pada kasus seksualitas.
BAB
II
BAHASAN
Pada bab ini diuraikan tentang (a)
teori perkembangan remaja, (b) kasus seksualitas, (c) analisis kasus, (d)
solusi konseptual, (e) peran administrasi pendidikan.
A.
TEORI
PERKEMBANGAN REMAJA
1. Teori
Kognitif Sosial
Beberapa ahli psikologi setuju
dengan pendapat para behavioris yang menyatakan bahwa perkembangan itu
dipelajari dan dipengaruhi secara kuat oleh lingkungan. Meskipun demikian,
mereka menganggap bahwa pendapat Skinner terlalu jauh ketika ia mengatakan
bahwa faktor pribadi atau kognisi tidak penting dalam memahami perkembangan.
Teori Kognitif Sosial (social
cognitive theory ) menyatakan bahwa perilaku, lingkungan dan
kognisi merupakan faktor-faktor penting dalam perkembangan.
Albert
Bandura (1986, 1997, 2000, 2001, 2004) dan Walter Mischel (1973, 1995, 2004)
adalah arsitek dari versi kontemporer teori kognisi sosial, yang awalnya oleh
Mischel (1973) dinamai teori pembelajaran sosial kognitif (cognitive social learning theory). Bandura, menyatakan bahwa teori ini
dipengaruhi oleh factor perilaku, lingkungan, dan pribadi atau kognitif,
seperti keyakinan, perencanaan, dan berpikir, dapat berinteraksi secara timbal
balik. Ini artinya lingkungan dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Namun ada
banyak hal yang perlu dipertimbangkan, seseorang dapat bertindak untuk mengubah
lingkungan seperti faktor kognitif atau pribadi dapat mempengaruhi perilaku
seseorang begitu sebaliknya. Seperti pendekatan perilaku Skinner, pendekatan
sosial kognitif menekankan pentingnya penelitian empiris dalam mempelajari
perkembangan. Penelitian ini berfokus pada proses-proses yang menjelaskan perkembangan
faktor sosioemosional dan kognitif yang mempengaruhi cara kita hidup
bermasyarakat.
2. Teori
Kontekstual Ekologis
Teori
ini mengidentifikasikan lima sistem lingkungan, yang berkisar dari interaksi
langsung dengan agen-agen sosial hingga input budaya yang luas. Kelima system
dalam teori ekologis menurut Bronfenbrenner adalah mikrosistem, mesosistem,
ekosistem, makrosistem dan kronosistem yakni:
a. Mikrosistem
Situasi dimana remaja hidup yang meliputi keluarga,
kawan-kawan sebaya, sekolah, dan lingkungan sekitar. Dalam mikrosistem terjadi
interaksi yang paling langsung antara remaja dengan lingkungan sekitarnya.
b. Mesosistem
Relasi antara dua mikrosistem atau lebih. Contohnya
adalah relasi antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, pengalaman
sekolah dengan pengalaman keagamaan, da pengalaman keluarga dengan pengalaman
bersama kawan-kawan sebaya.
c. Eksosistem
Situasi social dimana remaja tidak memiliki peran
aktif namun mempengaruhi pengalaman remaja. Contohnya pengalaman seorang ibu
ditempat kerjanya mungkin dapat mempengaruhi relasinya dengan suami dan anak
remajanya.
d. Makrosistem
Budaya dimana remaja hidup. Budaya merujuk pada
pola-pola perilaku, keyakinan, dan semua produk dari sekelompok manusia yang
diteruskan dari generasi ke generasi.
e. Kronosistem
Pola dari peristiwa-peristiwa lingkungan dan tansisi
dari rangkaian kehidupan dan keadaan-keadaan sosio-historis. Sebagai contoh,
dalam studi mengenai dampak perceraian terhadap anak-anak. Dampak negatif
tersebut seringkali memuncak di tahun pertama setelah perceraian.
B.
KASUS
KASUS 1
Nama
Kasus : Kopi Darat dengan Teman
Facebook, Gadis Cantik Ini Nyaris Kehilangan Keperawanan
Tempat : Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang,
Sumatera Selatan
Waktu : Selasa, 28 February 2016
Pelaku : RK (19)
Sebab : Korban berkenalan dengan pelaku
lewat media sosial facebook dan berkomunikasi dalam sambungan telepon. Akibat : Keduannya bertemu dan korban dibawa ke rumah kosong lalu diajak berhubungan intim (Pemerkosaan).
PALEMBANG
– Selasa (28/2/2016) petang, beberapa hari sebelumnya korban berkenalan dengan
terlapor RK melalui facebook. Komunikasi yang rutin di facebook dan sambungan
telepon, rupanya tak cukup bagi mereka, sehingga keduanya memutuskan untuk kopi
darat alias bertemu. Setelah berbincang lama, RK mengajak jalan-jalan dan
membawanya ke rumah kosong. Disana RK mengunci pintu dan mengajak FS
berhubungan intim. FS menolak dan RK melakukian kekerasan agar bisa memerkosa
korban. RK langsung berteriak keluar dan akhirnya dibantu warga setempat.
Kejadian itu diceritakan korban kepada ibunya dan ibunya melaporkan polisi.
Sumber
: https://daerah.sindonews.com/read/1184218/190
KASUS
2
Nama Kasus : Pesta Seks di Kamar Kos, Enam Remaja
Digerebek Warga
Tempat : Jalan Samari RT 18 Madurejo, Arut
Selatan, Kotawaringin Barat, Kalteng
Waktu : Selasa, 27 Desember 2016 pukul
01.30 WIB
Pelaku : Enam Remaja ( Dua perempuan dan
empat pria)
Sebab : Enam remaja yang akan melakukan
pesta seks di sebuah kamar kos
Akibat : Tindakan itu diketahui oleh warga
dan RT setempat dan akhirnya digrebek oleh
warga yang dipimpin oleh Ketua RT.
KOTAWARINGIN BARAT – Enam remaja
empat laki-laki dan dua perempuan yang akan pesta seks di Jalan Samari RT 18
Madurejo, Arus Selatan, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat Kalteng digerebek
warga, selasa (27/12/2016) dini hari pukul 01.30 WIB. Dua remaja perempuan E
(14) dan LA (18) hanya mengenakan pakaian dalam yang ditutupi baju panjang
sepanjang paha dalam posisi tidur dalam kamar bersama empat remaja pria
ditempat terpisah. Enam remaja tersebut segera digelandang ke poskampling
setempat untuk diintrogasi warga. Dua perempuan itu didata dan dipulangkan
kerumah masing-masing, dua pria diserahkan ke Polres Kobar, karena tidak jelas
identitasnya.
Sumber : https://daerah.sindonews.com/read/1166200/174
KASUS
3
Nama
Kasus : Dihamili Kekasih, Gadis Manis
asal Palembang Lapor Polisi
Tempat : Ilir Timur Palembang
Waktu :
4 November 2016
Pelaku : AP (19)
Sebab : Saat berpacaran sering melakukan
hubungan suami istri
Akibat : hamil dan ditinggal pergi oleh
kekasihnya
PALEMBANG
– RP (17) asal Ilir Timur Palembang ditemani orang tua mencari keberadaan
kekasihnya AP (19) justru menghilang entah kemana setelah merenggut keperawanan
RP yang kini tengah hamil lima bulan. Awal mula kejadian, AP merayu RP untuk
menginap di kediamannya dengan alasan hari sudah malam. Pada awalnya RP menolak
karena takut dimarahi oleh orang tuanya. Akan tetapi, orang tua AP mengijinkan
RP tinggal di rumahnya. Saat malam sudah larut, AP merayu RP untuk berhubungan
suami istri RP mengaku sempat menolaknya. Tetapi RP termakan rayuan AP dengan
iming-iming dinikahi. Tetapi setelah RP kini tengah hamil, AP pergi entah
kemana. Ketika di tanyakan kepada orang tua AP tentang keberadaan AP, justru RP
dan orang tuanya dicaci maki bahkan menantang untuk lapor polisi.
Sumber: https://daerah.sindonews.com/read/1152899/190
C. Analisis Kasus
Dari ketiga kasus diatas yang merupakan masalah
perkembangan remaja yang dalam permasalahannya membahas tentang kasus
seksualitas. Dari kasus pertama yakni, “Kopi darat dengan teman facebook, gadis
cantik nyaris kehilangan keperawananya”. Dalam teori kognitif sosial dijelaskan
bahwa teori ini dipengaruhi oleh factor perilaku, lingkungan, dan pribadi atau
kognitif, seperti keyakinan, perencanaan, dan berpikir, dapat berinteraksi
secara timbal balik. RK dan FS berada dalam usia remaja dimana usia ini sangat
mudah terpengaruh dan berinteraksi secara mudah. Faktor pertama yang membuat
gadis ini hampir kehilangan keperawannya karena dia sangat mudah bergaul dan
berinteraksi terhadap orang lain serta mudah percaya pada semua orang. Faktor
yang kedua dalam teori konstektual ekologi pada system mikrosistem yakni RK
mungkin berada dalam lingkungan yang sangat buruk hingga dia memiliki rasa
ingin tau yang tinggi dan memiliki tekad untuk melakukan hal yang tidak senonoh
itu. Dan faktor yang ketiga adalah kurangnya pengawasan dari orang tua yang
membuat para remaja bertindak seenaknya padahal dalam usia remaja inilah tugas
orang tua yang paling berat apalagi orangtua yang memiliki anak perempuan.
Akibat dari ketiga faktor tersebut membuat para remaja terutama FS ini mudah
bergaul dan mudah percaya pada orang lain. Sehingga ia mudah diajak bertemu dan
tindak kejahatan lebih mudah dilakukan pada dirinya. Sedangkan RK ini yang
kurang perhatian dari orang tua serta lingkungan yang kurang baik baginya bisa
membuat dia mampu melakukan hal hal atau perilaku yang sangat buruk bagi
dirinya dan orang lain.
Kasus
yang kedua yakni, “Pesta Seks di Kamar Kos, Enam Remaja Digerebek Warga”. Dalam
teori konstektual ekologi pada system mikrosistem yakni keenam remaja tersebut
mungkin berada dalam lingkungan yang memang buruk sehingga melakukan pesta seks
dianggap hal yang biasa. Pada mesosistem keenam remaja ini mungkin memiliki
pengalaman-pengalaman yang tidak baik dari pengalaman keluarga maupun
pengalaman bersama teman sebayanya. Dan pada ekosistem seorang perempuan yang
bernama E(14) mengaku bahwa dirinya sering menemani pria untuk berkaraoke di
tempat hiburan malam sedangkan ibunya pun juga melakukan hal yang sama yang
dilakukan oleh E(14). Dalam ekosistem dijelaskan bahwa peran aktif seorang ibu
dapat mempengaruhi relasi pengalamannya. Sangat jelas bahwa keenam remaja ini
berada dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang sangat buruk sehingga
melakukan hal buruk pun itu hal yang sangat biasa. Akibatnya keenam remaja ini
sangat mudah melakukan hal negative seperti pesta seks. Dan kurangnya perhatian
orangtua pun juga berpengaruh penting terhadap pembentukan perilaku para remaja
tersebut. Sedangkan kasus yang ketiga yakni, “Dihamili Kekasih, Gadis Manis asal Palembang Lapor Polisi”. Dalam teori kognitif sosial dijelaskan bahwa teori ini dipengaruhi oleh factor perilaku, lingkungan, dan pribadi atau kognitif, seperti keyakinan, perencanaan, dan berpikir, dapat berinteraksi secara timbal balik. RP (17) dan AP(19) menjalin hubungan kekasih disinilah faktor yang membuat AP(17) yakin atau percaya dengan kekasihnya serta interaksi timbal balik yang dijanjikan oleh kekasihnya membuat AP (17) semakin percaya dan mau melakukan hubungan suami istri. Serta dijelaskan dalam teori kontekstual ekologis yaitu mesosistem, yang berarti relasi antara dua mikrosistem atau lebih. Contohnya adalah relasi antara pengalaman keluarga dengan pengalaman sekolah, pengalaman sekolah dengan pengalaman keagamaan, da pengalaman keluarga dengan pengalaman bersama kawan-kawan sebaya. Hal ini terbukti dari orang tua dari AP yang mendukung jika anaknya melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh remaja. Karena remaja merasa dibebaskan serta kurang diawasi oleh orang tua, maka remaja dapat merasa bebas melakukan sesuatu sesuka hati yang belum sepenuhnya mengerti atau belum saatnya mengerti tentang seksual dan akibat kedepannya. Akibat dari kasus ini ialah, korban RP hamil dan pelaku AP hilang entah kemana saat akan dimintai pertanggungjawaban.
Dari ketiga kasus diatas dapat disimpulkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi perkembangan remaja adalah faktor lingkungan, kawan sebaya, pengalaman, perilaku, pribadi atau kognitif, budaya dan peristiwa – peristiwa yang ada disekitarnya. Karena faktor-faktor tersebut sangat melekat dengan anak remaja terutama usia antara 15-19 tahun. Banyak anak remaja yang mengira bahwa seksualitas adalah hal yang biasa padahal bahaya dari hubungan seksualitas bisa mengakibatkan hancurnya masa depan. Anak remaja mungkin lebih mudah terpengaruh karena pada masa perkembangannya rasa ingin tahu dari anak tersebut lebih tinggi. Dari pengalaman yang diperoleh anak remaja pun juga dapat menimbulkan keberanian pada diri mereka untuk melakukan seksualitas tersebut, misalnya melihat orang tua yang berkelakuan tidak baik atau orang tua yang bekerja di club malam dapat menimbulkan pemikiran anak remaja untuk meniru perilaku orang tua tersebut dan juga teman pergaulan yang salah juga mampu menimbulkan perbuatan seksualitas semakin sering dilakukan. Pengawasan oreang tua yang kurang terhadap anak remaja pun juga sangat berpengaruh dengan perkembangan remaja, karena remaja semakin bebas untuk melakukan perbuatan yang salah tanpa ada larangan dari orang tua. Remaja pun tidak mengetahui mana perbuatan yang salah dan mana perbuatan yang benar karena orang tua yang tidak mau atau kurang mengawasi anaknya. Serta budaya perilaku di lingkungan pun juga berpengaruh karena budaya atau kebiasaan akan membentuk perilaku pada diri remaja tersebut atau karakter pada remaja tersebut hal ini juga sangat penting karena juga akan berpengaruh ke generasi-generasi berikutnya.
D. Solusi Kasus
1. Remaja harusnya diberi pengetahuan tentang seksual dan pendidikan seksual agar remaja tidak salah mengartikan seksual. Seperti pengartian remaja orang yang berhubungan seks sebagai pertanda cinta, tetapi berhubungan seks haruslah lebih dahulu mempunyaihubungan suami istri.
2. Relasi kawan sebaya yang melakukan hal-hal yang positif, seperti gerakan sosial yang peduli akan lingkungan sekitarnya. Hal tersebut dapat membuat waktu remaja tersita dengan aktivitas-aktivitas yang positif dan tidak akan memikirkan aktivitas-aktivitas negative seperti seks bebas, narkoba, dan sejenisnya.
3. Pembatasan internet tentang bidang seksual. Dengan membatasi artikel atau hal-hal yang menyangkut pornografi dibatasi, maka remaja tidak akan mudah mengakses hal-hal yang menyangkut pornografi tersebut.
1. Remaja harusnya diberi pengetahuan tentang seksual dan pendidikan seksual agar remaja tidak salah mengartikan seksual. Seperti pengartian remaja orang yang berhubungan seks sebagai pertanda cinta, tetapi berhubungan seks haruslah lebih dahulu mempunyaihubungan suami istri.
2. Relasi kawan sebaya yang melakukan hal-hal yang positif, seperti gerakan sosial yang peduli akan lingkungan sekitarnya. Hal tersebut dapat membuat waktu remaja tersita dengan aktivitas-aktivitas yang positif dan tidak akan memikirkan aktivitas-aktivitas negative seperti seks bebas, narkoba, dan sejenisnya.
3. Pembatasan internet tentang bidang seksual. Dengan membatasi artikel atau hal-hal yang menyangkut pornografi dibatasi, maka remaja tidak akan mudah mengakses hal-hal yang menyangkut pornografi tersebut.
E. Peran Administrasi Pendidikan
Peran
administrasi pendidikan dalam
pengendalian seks bebas ialah
1.
Dapat menambahkan pengetahuan atau
pendidikan seksual di dalam pelajaran di sekolah.
2.
Dapat menambahkan ektrakurikuler yang
lebih banyak agar siswa lebih sering menghabiskan waktunya dengan hal yang
berguna.
3.
Dapat mengadakan seminar atau penyuluhan
tentang bahaya seks bebas dikalangan remaja sangat penting.
4.
Dapat mensupervisi guru kelas untuk
lebih memperhatikan para siswa yang bermasalah.
5.
Dapat menganggarkan biaya untuk
mendukung pelaksanaan penambahan pelajaran mengenai pengetahuan dan pendidikan
dalam pelajaran di sekolah maupun mendukung pengadaan seminar atau penyuluhan
tentang bahaya seks dikalangan remaja.
BAB III
PENUTUP
Pada
bab ini diuraikan tentang (a) Simpulan dan (b) Saran.
A. Simpulan
Kasus seksualitas
merupakan salah satu kenakalan remaja yang sudah marak terjadi di kalangan
remaja. Kasus ini disebabkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku
remaja. Faktor yang paling berpengaruh adalah faktopr lingkungan dimana remaja
tersebut tinggal. Faktor lingkungan yang baik akan membuat remaja tersebut
memiliki perilaku yang baik, sedangkan lingkungan yang buruk dapat mempengaruhi
perilaku remaja mennjadi buruk. Hal ini dapat ditangani dengan lebih
memperbanyak pengetahuan tentang apa bahaya seks itu sendiri.
B. Saran
Sebaiknya, pengetahuan
ini dipelajari dengan cermat dan sunguh-sunguh oleh pembaca, khususnya pihak-pihak yang terlibat
dengan kasus seksualitas yang marak pada anak remaja. Hal ini, diharapkan
penanganan kasus seksualitas dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien
kedepannya, setelah pihak-pihak yang berwenang tahu bagaimana cara mencari
penyebab dan solusi dari setiap permasalahan.
DAFTAR
PUSTAKA
Santrock,
john w. 2007. Remaja edisi kesebelas.
Jakarta. Penerbit Erlangga
Sumber : Hariyanto, Adi. 2016. Kopi Darat dengan Teman Facebook, Gadis
Cantik Ini Nyaris Kehilangan Keperawanan. Sindonews. (Online), (https://daerah.sindonews.com/read/1184218/190),
Diakses 28 Maret 2017
Sumber : Dzakwan, Sigit. 2016. Pesta Seks di Kamar Kos, Enam Remaja
Digerebek Warga. Sindonews. (Online), (https://daerah.sindonews.com/read/1166200/174),
Diakses 28 Maret 2017
Sumber
: Hariyanto, Adi. 2016. Dihamili Kekasih,
Gadis Manis asal Palembang Lapor Polisi. Sindonews. (Online), (https://daerah.sindonews.com/read/1152899/190),
Diakses 28 Maret 2017






0 komentar:
Posting Komentar