This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 29 April 2019

SINERGITAS KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT DALAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER



 Sinergitas Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat dalam Penguatan Pendidikan Karakter

Peran keluarga dan sekolah dalam penguatan pendidikan karakter yakni menjelaskan bahwa sejatinya anak-anak di Indonesia dan di seluruh dunia  terlahir dalam keadaan cerdas, baik dalam bidang akademik maupun akademik. Akan tetapi, inilah yang belum mampu dipahami oleh masyarakat kita, dan sebagian dari mereka masih mengklaim bahwa anak-anak yang cerdas hanya anak-anak yang kompeten di bidang akademik. Alhasil, pemahaman ini menjadikan sejumlah orang tua memaksakan anaknya untuk unggul di bidang akademik, seperti matematika, sains, dan ilmu-ilmu yang lainnya. Terkadang, baik orang tua maupun guru di sekolah tidak segan untuk menggunakan kekerasan dalam memastikan bahwa anak menguasai ilmu-ilmu tersebut. Hal ini tentu miris, ketika mengetahui bahwa anak-anak yang sejatinya berkompeten dalam suatu bidang menjadi takut untuk mengeksplor kemampuannya, karena secara terus menerus menjadi sasaran empuk dari kekerasan fisik dan verbal.
Sekolah, orang tua dan masyarakat merupakan tripusat pendidikan. Sudah menjadi tugas mereka dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak dan penuh kasih sayang. Tindakan yang tidak bijakasana, apabila guru dan orang tua memaksakan kehendak kepada anak untuk menguasai suatu bidang yang tidak menjadi kesukaannya. Maka akan mampu menimbulkan dampak pada anak, muncul perasaan-perasaan seperti berikut:
(1) gelisa dan cemas,
(2) malas belajar, serta
(3) rendah diri.Orang tua dan guru.  

Seharusnya menyediakan metode pembelajaran yang sesuai dengan bakat dan minat anak. Semisal, anak suka menggambar, maka orang tua dan guru harus menyajikan pula suatu materi dengan cara menggambar. Jika hal tersebut dilakukan, maka anak akan lebih senang belajar dan bersemangat. Ketika orang tua dan sekolah sudah mampu berkerjasama dalam menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang nyaman, maka kemungkinan kecil bagi anak untuk tidak menjadi pribadi yang nakal.

Kenakalan pada anak-anak merupakan hal yang wajar, karena pada usia tersebut anak sedang gemar mengeksplor lingkungannya. Hal ini merupakan momen bagi orang tua dan sekolah untuk menebarkan pengaruh-pengaruh positif. Orang tua, selaku pihak yang mendampingi anak di rumah, seharusnya juga membantu anak dalam memilih dan memilah tontonanannya. Demikian dikarenakan televisi dan media masa lainnya dinilai paling banyak memberi pengaruh negatif pada anak. Guru di sekolah juga tidak boleh menggunakan kekerasan, karena guru yang menerapkan kekerasan mampu dikenakan hukuman 3 tahun 6 bulan penjara.
Peran masyarakat dalam penguatan pendidikan karakter. Beliau menjelaskan bahwa sejatinya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang santun, sopan dan mengenal etika. Demikian sebaiknya dipelihara, bukan dibiarkan berubah seiring berjalannya zaman. Allah, sejatinya mengkaruniakan karakter yang berbeda-beda pada masing-masing manusia. Hanya saja, kita sebagai manusia terkadang tidak mampu dalam menggunakan karakter tersebut dalam hal yang postif. Apabila kita bertekad untuk memperbaiki orang-orang di sekitar kita, maka setidaknya ada dua karakter yang harus ditanamkan dalam diri kita. Seperti karakter bahagia yang diwujudkan dengan menjalankan aktivitas sehari-hari dengan perasaan senang dan karakter jujur yang diwujudkan dengan kebiasaan berkata serta bersikap apa adanya. Ketika seseorang telah mampu mengolah dua karakter inti dalam dirinya, maka mudah baginya untuk menebar pengaruh positif pada anggota masyarakat.
Indonesia terdapat 19 karakter yang ditanamkan, namun dengan mengkolaborasikan dua karakter dalam diri kita sudah merupakan hal yang cukup. Di Indonesia, sangat perlu ditanamkan etika, seperti kebiasaan merunduk pada saat lewat dihadapan orang yang lebih tua. Hal tersebut rupanya mulai memudar, terutama di tengah kalangan remaja. Saat ini, banyak pula anak-anak usia muda bahkan usia dini yang gemar menonton video porno. Mereka tidak tahu bahwa yang demikian tidak akan mendatangkan manfaat, melainkan menggerogoti sel-sel otak. Jika hal ini dibiarkan, maka dapat dipastikan 20 tahun lagi, pemimpin tidak bisa membedakan mana yang halal dan haram.
Karakter sejatinya berbeda dengan watak dan tempramen yang notabene sukar untuk diubah. Oleh karena itu, perlu diilakukan pendekatan-pendekatan dalam pembentukan karakter, yakni bisa menggunakan pendekatan geografis, sosiologis, dan kultural. Dalam pembentukan karakter ini pula dibutuhkan sinergitas antara keluarga (60%), sekolah (20%) dan masayarakat (20%).  Seluruh pihak harus berkerjasama dalam  mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkarakter dan beretika. Jika kita dikenal sebagai negara yang sopan, maka tidak hanya “dulu”, melainkan “saat ini” hingga di “masa mendatang”. Mari tanamkan sifat-sifat positif dalam diri kita dan sebarkan pula pengaruh positif pada masyarakat kita.


Selasa, 23 April 2019

PENGARUH PERKEMBANGAN IPTEK DALAM DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA


PENGARUH PERKEMBANGAN IPTEK DALAM DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA

Ramadhanti Dita Nur Safitri

ABSTRAK: Tujuan penulisan artikel ini untuk mengetahui (1) interaksi antara perkembangan IPTEK dan pendidikan, (2) peran IPTEK dalam interaksi perkembangan masyarakat, (3) arah pendidikan yang memanfaatkan perkembangan IPTEK di Indonesia, (4) pengaruh belajar dengan perkembangan IPTEK dalam dunia pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan IPTEK membawa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Implikasinya adalah sistem pendidikan harus benar-benar mengacu pada konteks sosial–ekonomi dan budaya dari masyarakat yang bersangkutan. Perkembangan IPTEK memerlukan persiapan dalam bentuk sosialisasi IPTEK melalui pendidikan.



Kata kunci: interaksi, perkembangan IPTEK, pengaruh belajar, pendidikan

“Pendidikan adalah bimbingan secara sadar dari pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya manusia yang memiliki kepribadian yang utama dan ideal” (Jalaludin & Idi, 2013:7-8). IPTEK dapat memengaruhi perubahan sikap manusia. Pada saat ini, IPTEK berkembang cukup pesat di lingkungan masyarakat. IPTEK dapat juga memenuhi kebutuhan manusia seperti kebutuhan memperoleh informasi dan kebutuhan komunikasi. Pengertian teknologi menurut (Roger tahun 1986) dalam Sonhadji (2014) adalah “ Peraatan perangkat keras dalam struktur organisasi yang mengandung nilai sosial yang memungkinkan individu untuk mengumpulkan, memproses, dan saling tukar informasi”. Didunia IPTEK berkembang sangat pesat. Perkembangan IPTEK juga tidak terkontrol sehingga masyarakat menjadi terbawa arus moderenisasi. Akibatnya dalam masyarakat terjadi perubahan besar hingga menghilangkan kebudayaan asli, terlebih yang terjadi pada masyarakat Indonesia saat ini. Kegunaan IPTEK yang menguntungkan bagi masyarakat akan dipertahankan eksistensinya dan mungkin akan dilakukan modifikasi atau inovasi yang memiliki nilai guna sangat tinggi.


PEMBAHASAN
Interaksi Antara Pengembangan IPTEK dan Pendidikan
Perkembangan IPTEK tersebut harus diadopsi dalam sistem pendidikan, dalam arti apa yang harus diajarkan dan bagaimana mengajarkannya. Teknologi baru harus diserap oleh suatu sistem sosial yang memerlukan waktu dan pendidikan yang cukup. Sebagai contoh, penyebaran mikro-computer sangat erat kaitannya dengan penguasaaan program-program yang menyertainya, dan selanjutnya juga erat kaitannya dengan kebijakan-kebijakan pendidikan dan pelatihan. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan IPTEK membawa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Implikasinya adalah sistem pendidikan harus benar-benar mengacu pada konteks sosial–ekonomi dan budaya dari masyarakat yang bersangkutan. Perkembangan IPTEK memerlukan persiapan dalam bentuk sosialisasi IPTEK melalui pendidikan. Dalam waktu yang bersamaan, hasil pengembangan IPTEK dapat juga dimanfaatkan untuk pengembangan sistem pendidikan dan pembelajaran itu sendiri.
Peranan IPTEK dan Interaksi Perkembangan Masyarakat
Di muka telah disebutkan bahwa perkembangan IPTEK dapat memengaruhi perkembangan disemua sektor kehidupan. Hal ini berarti bahwa usaha pengembangan IPTEK memiliki multiplying effect, yaitu dapat mendatangkan nilai tambah yang berlipat ganda. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa IPTEK merupakan social gene, yaitu pembaharuan sosial dari satu sistem sosial lainnya. Sebenarnya terjadi siklus antara perkembangan IPTEK dan perkembangan suatu masyarakat. Perkembangan IPTEK berdampak nyata pada kehidupan keluarga, bisnis/industri, sub-kultur, gaya hidup, dan hubungan antarmanusia. Sebaliknya, faktor-faktor sosial – budaya dalam masyarakat menentukan perkembangan IPTEK itu sendiri.
Arah Pendidikan yang Menunjang Perkembangan IPTEK di Indonesia
Dalam rangka mengikuti perkembangan IPTEK, maka arah pendidikan di Indonesia masa datang dapat diantisipasikan sebagai berikut: (1) Informasi yang ditransmisikan semakin bersifat spesifik, kompleks, dan praktikal, dan proses transmisi ini harus dimulai sedini mungkin kepada peserta didik, serta menggunakan sumber belajar yang interaktif dan komunikatif, dengan struktur kelas yang dinamis; (2) dalam pendidikan ini proses mental dan rasionalitas harus diutamakan bagi peserta didik, agar dengan daya nalarnya mereka dapat membuat keputusan secara tepat; (3) pendidikan pada dasarnya berlangsung seumur hidup, dan peserta didik harus dibekali bagaimana cara belajar (learn how to learn); (4) pendidikan harus diarahkan pada pembentukan watak yang mulia, disamping pada penguasaan IPTEK, agar manusia yang dihasilkan nanti adalah manusia yang mampu mengendalikan teknologi, bukan manusia yang dikendalikan oleh teknologi; dan (5) karena perkembangan IPTEK sudah demikian cepat dan telah merambat ke semua dimensi kehidupan, maka gerakan pengguasaan IPTEK tidak cukup hanya dalam lembaga pendidikan formal (persekolahan), tetapi juga harus melalui pendidikan keluarga  dan masyarakat, serta seimbang dan simultan.
Pengaruh Teknologi Informasi Dalam Pendidikan
Dimuka telah disebutkan bahwa akses teknologi informasi ditandai degan meluasnya jaringan telepon, televisi, dan komputer. Pendidikan merupakan proses transmisi budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya, menekankan pada aspek mental dan rasionalitas, untuk mempersiapkan kehidupan dimasa depan, agar tercapainya martabat yang mulia.
Dalam konteks pendidikan, dapat dimanfaatkan berbagai jaringan telepon, misalnya dalam untuk pesan-pesan melalui telepon rumah,HP, flexi, sms, faksimile,dan internet. Jaringan televisi dapat digunakan untuk menayangkan bermacam-macam model pembelajaran jarak jauh, dan pembangkitkan budaya mutu di perguruan  tinggi atau sekolah. Televisi-televisi swasta dapat menyajikan sejumlah acara yang mempromosikan pendidikan dan pembelajaran. Berdasarkan jalur transmisi, jaringan computer tediri dari LAN (Local Area Network) dan WAN (Wire Area Network). LAN merupakan jaringan yang terbatas dalam jangkauannya. WAN adalah jaringan sistem komunikasi data yang satu sama lain berlokasi jauh.

PENUTUP
Simpulan
Perkembangan IPTEK sangat berpengaruh pada semua bidang atau sector kehidupan. Mulai dari perkembangan IPTEK dalam lingkup masyarakat maupun dalam lingkup pendidikan. IPTEK sangat mempengaruhi proses belajar karena IPTEK dapat membantu berjalannya proses pendidikan dan penilaian pendidikan itu sendiri dapat dilihat dari seberapa canggihnya teknologi yang digunakan. Pendidikan merupakan proses transmisi budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya, menekankan pada aspek mental dan rasionalitas, untuk mempersiapkan kehidupan dimasa depan, agar tercapainya martabat yang mulia.
Saran
Perkembangan IPTEK juga tidak terkontrol sehingga masyarakat menjadi terbawa arus moderenisasi. Akibatnya dalam masyarakat terjadi perubahan besar hingga menghilangkan kebudayaan asli, terlebih yang terjadi pada masyarakat Indonesia saat ini. Sebaiknya dengan adanya teknologi yang semakin canggih, masyarakat mampu memanfaatkan dengan hal-hal yang positif tidak dengan mengakses hal-hal yang negative.

DAFTAR RUJUKAN
Jalaluddin & Abdullah. 2009. Filsafat Pendidikan. Jogjakarta. AR.RUZZ MEDIA.
Sonhadji, A. 2014. Manusia, Teknologi, dan Pendidikan. Malang. Universitas Negeri Malang (UM PRESS).



Senin, 22 April 2019

IMPLEMENTASI TOTAL QUALITY MANAGEMENT MELALUI KINERJA GURU DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN


IMPLEMENTASI TOTAL QUALITY MANAGEMENT MELALUI KINERJA GURU DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

Ramadhanti Dita Nur Safitri
Email : ditaicha45@gmail.com

Abstract :. The research aims to describe the implementation of total quality management through the performance of teachers in improving the quality of education. The research method used is the literature review data collection technique. The collected literature is then analyzed. The results obtained by teacher performance have an effect on improving the quality of education, while the implementation of total quality management has an effect on improving the quality of education. Simultaneously teacher performance and implementation of total quality management have an effect on improving the quality of education.
Keywords: Teacher Performance, Total Quality Management, Education Quality.

Abstrak : Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi total quality manajemen melalui kinerja guru dalam meningkatkan mutu pendidikan. Metode penelitian yang digunakan dengan teknik pengumpulan data literature review. Literature yang telah terkumpul kemudian dianalisis. Hasil yang diperoleh secara kinerja guru berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan, sedangkan implementasi total quality management berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan. Secara simultan kinerja guru dan implementasi total quality managemen berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan.
Kata Kunci : Kinerja Guru, Total Quality Management, Mutu Pendidikan.


PENDAHULUAN
Sumber daya Manusia dapat diartikan sebagai pegawai, karyawan, pekerja yaitu orang yang mempekerjakan atau orang yang mempunyai pekerjaan. Penggunaan istilah sumber daya manusia dimaksudkan untuk memperluas kajian sehingga lebih bersifat universal dan tidak mengarah pada satu bidang tertentu saja. Dalam dunia pendidikan ada dua kelompok manusia dalam melaksanakan pendidikan yang pada tataran teknis operasional dapat diistilahkan: (1) kelompok orang yang disebut peserta didik, dan (2) kelompok orang yang disebut pendidik dan tenaga pendidikan. Semua orang yang menyelenggarakan proses pendidikan merupakan pegawai dari dun ia pendidikan yang disebut juga sumber daya manusia pendidikan. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, secara teknis disebutkan istilah pendidik dan tenaga kependidikan. Pendidik adalah tenaga pendidikan yang berkualifikasi sebagai guru , dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menegah (Suprihatiningrum, 2014:24).  Sebuah lembaga pendidikan yang baik harus memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, yang mampu bersaing di negara maju tentukannya diperlukan seorang pendidik yang professional untuk menentukan sebuah keberhasilan pendidikan. Kinerja berkaitan dengan apa yang dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan stategis organisasi, kepuasan publik, dan memberikan kontribusi ekonomi (Amstrong dan Baron, dalam Wibowo, 2007: 2).
Berdasarkan definisi kinerja yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah hasil kerja atau prestasi yang dicapai oleh seseorang, yang dinilai berdasarkan kualitas dan kuantitasnya,sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dengan demikian,
Pendidikan diharapkan dapat mengubah dan mengembangkan kualitas dari generasi ke generasi. Untuk itu perlu adanya peningkatan mutu dibidang pendidikan, sebab hanya dengan pendidikan suatu masyarakat dapat mengikuti perkembangan zaman. Meningkatkan mutu pendidikan maka kualitas sumber daya manusia pun akan berkembang dengan berjalannya waktu. Upaya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, bidang pendidikan memegang peranan penting karena pendidikan akan dapat mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan bangsa Indonesia. Di samping itu akan terwujud sumber daya manusia yang terampil, berpendidikan dan berkualitas sebagai pelaksanaan pembangunan dalam upaya mewujudkan tujuan nasional. Sumber daya manusia dapat terwujud dengan optimal sesuai dengan harapan melalui pendidikan karena dengan pendidikan siswa belajar berbagai hal tentang ilmu pengetahuan. Peningkatan mutu pendidikan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kualitas mutu pendidikan akan menjadi baik atau buruk. Faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan yaitu kinerja guru dan total quality managament (TQM).
Hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai kinerja guru yang tinggi diperlukan adannya motivasi dari guru untuk meningkatkan kinerjanya secara utuh. Kemampuan dan motivasi yang tinggi didasarkan pada keinginan yang kuat dari setiap guru untuk berkarya. Motivasi kerja merupakan kegiatan yang dapat menimbulkan semangat atau dorongan bekerja baik secara individu maupun kelompok guna mencapai tujuan yang ditetapkan. Sedangkan motivasi kerja guru ialah kondisi dimana guru mempunyai kemauan atau kebutuhan untuk mencapai tujuan tertentu melalui pelaksanaan suatu tugas. Pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Manajemen mutu terpadu atau total quality management (TQM) merupakan konsep yang mempunyai nilai-nilai yang baik untuk perkembangan organisasi di semua sektor kehidupan. Menurut Suharsaputra (2010) Total Quality Management (TQM) juga merupakan suatu pendekatan yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui continuous improvement (perbaikan terus-menerus) atas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungannya. Program TQM menitikberatkan pada kualitas secara total dalam organisasi. Beberapa sekolah ada yang telah menerapkan TQM dan berhasil meningkatkan kinerjanya, namun ada juga yang belum mampu meningkatkan kinerjanya. Total quality management (TQM) juga merupakan suatu pendekatan yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui continuous improvement (perbaikan terus menerus) atas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungannya.
Suatu lembaga pendidikan yang mempunyai kinerja guru yang cukup baik hal ini terbukti dari prestasi yang dicapai siswa untuk sekolahnya. Guru selalu mengupayakan yang terbaik untuk siswa dalam meningkatan mutu pendidikan sekolahnya serta kualitas lulusan setiap tahunnya. Sekolah yang sudah menerapkan Manajemen Mutu Terpadu atau Total Quality Management (TQM). Sekolah selalu berusaha memberikan pelayanan yang menunjang fasilitas sekolah yang dapat dimanfaatkan dengan baik, keamanan dan kenyamanan siswa di sekolah juga sangat diperhatikan. Kepuasan siswa maupun orang tua sangat menjadi prioritas yang ingin dicapai sekolah. Setiap tahun sekolah selalu berusaha memperbaiki sarana dan prasarana sekolah untuk peningkatan mutu pendidikan yang baik. Peningkatan mutu pendidikan di sekolah sedikit banyak dipengaruhi kepala sekolah dan juga adanya team work di lingkungan sekolah..
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode penelitian literature review (kajian literatur). Menurut Marzali (2016:27) literature review (kajian literatur) adalah salah satu penelusuran dan penelitian kepustakaan dengan membaca berbagai buku, jurnal, dan terbitan-terbitan lain yang berkaitan dengan topik penelitian untuk menghasilkan satu tulisan berkenaan dengan satu topik atau isu tertentu. Peneliti menggunakan buku dan jurnal terkait dengan topik yang akan dibahas sebagai sumber informasi untuk mendukung pemecahan masalah yang diteliti.
Adapun langkah-langkah dalam melakukan teknik literature review, yaitu menentukan permasalahan yang akan diangkat, mencari sumber-sumber (literature) yang relevan dengan permasalahan, menganalisis data, dan yang terakhir yaitu mengambil kesimpulan. Melalui literature yang terkumpul, peneliti memperkaya sebanyak mungkin informasi yang ada terkait dengan proses perbaikan berkelanjutan dalam upaya peningkatan mutu sekolah.
HASIL
Pada dasarnya faktor penghambat yang menjadikan kinerja guru tidak sesuai dengan mutu pendidikan seperti kurangnya kesadaran diri siswa akan kegiatan belajar. Siswa kurang memperhatikan saat guru sedang menjelaskan materi pembelajaran, hal ini menyebabkan siswa tidak fokus pada pembelajaran yang diajarkan guru di depan kelas. Pengaruh yang sesuai dengan implementasi total quality mangement terhadap peningkatan mutu pendidikan dikarenakan sekolah memberikan fasilitas dan layanan dalam proses pembelajaran untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa guna mendapatkan hasil belajar yang ingin dicapai. Fasilitas dan layanan yang diberikan pihak sekolah antara lain tersedianya ruang kelas yang nyaman untuk digunakan, tersedianya ruang laboratorium untuk menunjang kegiatan belajar siswa, dan pelayanan yang ramah dari para karyawan sekolah. Kinerja guru yang baik akan meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar (kbm), kualitas yang meningkat akan mempengaruhi kriteria ketuntasan minimal (kkm) siswa. Meningkatnya kualitas maka daya keterserapan untuk kuliah atau kerja juga meningkat, sehingga mutu pendidikan akan tercapai dengan baik.
PEMBAHASAN
Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. (Mangkunegara, 2015). Faktor yang menjadikan kinerja guru tidak sesuai terhadap mutu pendidikan adalah kurangnya kesadaran diri siswa akan kegiatan belajar. Siswa kurang memperhatikan saat guru sedang menjelaskan materi pembelajaran, hal ini menyebabkan siswa tidak fokus pada pembelajaran yang diajarkan guru di depan kelas. Jam belajar pada siang hari juga dapat menjadikan konsenterasi siswa menurun karena siswa sudah laapar ataupun mengantuk sehingga dapat membuat siswa tidak fokus. Siswa yang duduk di bagian belakang cenderung ramai atau berbicara sendiri dengan temannya yang tidak berhubungan dengan materi. Guru harus senantiasa mengendalikan siswa dengan lebih bekerja keras untuk memberikan perhatian agar siswa dapat memperhatikan dan fokus saat kegiatan belajar mengajar. Menurut Kompri (2015) mutu pendidikan akan tercapai jika secara kognitif siswa mencapai prestasi yang membanggakan yang diperlihatkan dengan nilai akademik, namun juga secara afektif siswa memiliki perilaku yang patut dicontoh. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam meningkatkan mutu pendidikan tidak hanya dari guru atau orang terdekat melainkan juga diperlukan keinginan dari dalam diri individu tersebut untuk mencapai prestasi yang membanggakan.
Implementasi total quality mangement terhadap peningkatan mutu pendidikan dikarenakan sekolah memberikan fasilitas dan layanan dalam proses pembelajaran untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa guna mendapatkan hasil belajar yang ingin dicapai. Fasilitas dan layanan yang diberikan pihak sekolah antara lain tersedianya ruang kelas yang nyaman untuk digunakan, tersedianya ruang laboratorium untuk menunjang kegiatan belajar siswa, dan pelayanan yang ramah dari para karyawan sekolah. Menurut Darmadji (2008) implementasi total quality management dalam peningkatan mutu pendidikan menyatakan bahwa: (1) siswa menikmati situasi sekolahnya; (2) orang tua siswa puas dengan layanan; (3) tingkat konsistensi pelayanan umum dan pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan peningkatan kualitas SDM (guru, tenaga kependidikan dan staf.
Membahas tentang mutu tidak terlepas dari tujuan peningkatan mutu layanan itu sendiri, yaitu untuk memuaskan pelanggan. Pelanggan institusi pendidikan sebagai penyedia jasa terbagi menjadi pelanggan internal dan eksternal. Pelanggan eksternal ialah pelanggan utama institusi pendidikan, seperti orang tua, peserta didik, masyarakat dan lain-lain yang merasakan langsung mutupelayanan. Pelanggan internal ialah pelanggan yang menjadi pekerja dalam penyedia jasa itu sendiri, karena masing-masing pekerja dalam intitusi turut menjadi penyedia jasa bagi rekan kerjanya (Sallis, 2011: 69). Menjamin mutu Sekolah selalu berusaha untuk meningkatkan mutu dari fasilitas dan pelayanannya setiap tahun, hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan proses belajar siswa. Hubungan sosial yang baik juga dapat mempengaruhi semangat belajar siswa untuk mencapai prestasi yang baik. Menjaga hubungan sosial yang baik siswa merasa nyaman dengan lingkungan sekitar, baik itu hubungan dengan sesama teman, hubungan dengan guru ataupun hubungan dengan karyawan sekolah. Hubungan yang harmonis dapat menciptakan semangat untuk melakukan kegiatan, termasuk kegiatan belajar di sekolah yang dapat memicu peningkatan prestasi dan mutu pendidikan semakin berkualitas.
Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan mutu pendidikan, pihak sekolah harus saling bekerjasama untuk selalu memberikan fasilitas dan pelayanan kepada siswa agar siswa merasa senang dalam proses pembelajaran. Pengaruh signifikan kinerja guru dan implementasi total quality management terhadap peningkatan mutu pendidikan dikarenakan siswa merasa senang bila semua kebutuhan dalam proses pembelajaran telah dipenuhi oleh pihak sekolah dan guru juga menggunakan variasi pembelajaran yang menarik, hal ini membuat siswa menjadi semangat dalam belajar yang dapat mencapai prestasi yang baik. Kinerja guru yang baik akan meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar (kbm), kualitas yang meningkat akan mempengaruhi kriteria ketuntasan minimal (kkm) siswa. Meningkatnya kualitas maka daya keterserapan untuk kuliah atau kerja juga meningkat, sehingga mutu pendidikan akan tercapai dengan baik. Mutu pendidikan sekolah akan terlihat dari kualitas yang dihasilakan, semakin tinggi kualitas yang dihasilkan semakin bagus mutu pendidikan sekolah tersebut. Meningkatkan pelayanan dan perkembangan yang terus menerus akan menjadikan mutu pendidikan meningkat. Perkembangan peningkatan pelayanan sekolah akan memuaskan kebutuhan pelanggan (siswa/ orang tua siswa).
KESIMPULAN
Kinerja guru berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran dari diri siswa tentang pentingnya kegiatan belajar. Artinya guru yang sudah menjelaskan materi pembelajaran dengan jelas tetapi siswanya tidak memperhatikan atau ramai sendiri sehingga tidak fokus dengan pembelajaran yang didepan dan siswa tidak paham. Implementasi total quality management memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik fasilitas, kepercayaan, komunikasi maka dapat meningkatan mutu pendidikan yang akan memuaskan pelanggan yaitu siswa ataupun orang tua siswa. Artinya, pelanggan sudah mempercayai pihak sekolah akan semua biaya yang diminta untuk kebutuhan pendidikan. Sekolah selalu memberikan rincian pembayaran ataupun iuran dengan jelas kepada siswa, sehingga siswa maupun orang tua siswa percaya terhadap pihak sekolah. Kinerja guru dan implementsi total quality management secara simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan mutu pendidikan belajar siswa maka pihak sekolah harus saling bekerjasama untuk selalu memberikan fasilitas dan pelayanan terbaik kepada siswa agar siswa merasa senang dalam proses pembelajaran.

DAFTAR RUJUKAN
Mangkunegara, P. A. (2015). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Mulyasa, H.E. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia Cet. 9. Jakarta: BumiAksara.

Mulyasa, H.E. 2013. Manajemen & Kepemimpinan Kepala Sekolah Cet. 3. Jakarta: Bumi Aksara.

Mulyasa, H.E. 2013. Uji Kompetensi dan Penilaian Kinerja Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suharsaputra, U. 2010. Administrasi Pendidikan. Bandung: PT Refika Aditama.
Sallis, Edward. 2011. Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan. Jogjakarta : Penerbit IRCiSoD
Wibowo. 2007. Manajemen Kinerja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Marzali, Amri. 2016. Menulis Kajian Literatur. Jurnal Etnosia, Volume 1 Nomor 2, (Online), (https://www.researchgate.net/publication/327180245_Menulis_Kajian_Literatur), diakses pada 10 November 2018
Trihandayanti, Utomo, & Astuti. Pengaruh Kinerja Dan Implementasi Total Quality Manajemen Terhadap Peningkatan Mutu Pendidikan SMK N 5 MADIUN. (Online). diakses pada 10 November 2018